Selamat Datang di Indiekraf Media – Kunjungi Juga Studio Kami untuk Berkolaborasi lebih Keren :)

Mbabar Mbubur Suro, Tradisi Unik di Malang yang Masih Terjaga Hingga Sekarang

Facebook
X
LinkedIn
Email
Print

Indiekraf.com – Malang bukan hanya dikenal dengan wisata alam dan kulinernya, tetapi juga memiliki berbagai tradisi budaya yang masih terus dilestarikan sampai sekarang. Salah satunya adalah Mbabar Mbubur Suro, sebuah tradisi tahunan yang digelar masyarakat Malang untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Muharram, yang dalam penanggalan Jawa dikenal dengan bulan Suro.

Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan Madyapuro dan menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Meski sudah berlangsung sejak lama, masih banyak generasi muda yang belum tau bahwa tradisi ini masih rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Berpusat di Kawasan Makan Ki Ageng Gribig

Tradisi Mbabar Mbubur Suro dipusatkan di kawasan Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyapuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Kawasan tersebut dikenal salah satu destinasi wisata religi yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Kampung Gribig Religi (KGR).

Setiap memasuki bulan Suro, area ini dipenuhi warga yang ikut berpartisipasi dalam rangkaian tradisi, mulai dari memasak bersama sampai pembagian bubur kepada masyarakat.

Dimulai dengan Memasak Bubur Suro Bersama

Salah satu momen yang paling khas adalah Ngudeg Bubur Suro, yaitu kegiatan memasak bubur secara gotong royong menggunakan wajan berukuran besar.

Bubur dibuat dari beras, santan, dan aneka rempah seperti serai, daun salam, dan daun jeruk yang menghasilkan cita rasa gurih khas. Proses memasak dilakukan bersama oleh warga dengan swadaya sebagai bentuk kebersamaan dalam menyambut tahun baru.

Setelah selesai dimasak, bubur kemudian disiapkan untuk proses berikutnya.

Ada Kirab Gunungan Takir yang Jadi Ikon Tradisi

Hal yang membuat tradisi ini makin menarik adalah adanya Kirab Gunungan Takir. Bubur yang sudah dimasak kemudian di susun dengan wadah daun pisang atau takir sampai membentuk gunungan, kemudian diarak menuju kompleks makam Ki Ageng Gribig.

Kirab biasanya diiringi berbagai kesenian tradisional, seperti musik rebana sampai penampilan Wayang Topeng Malangan yang menjadi salah satu ikon budaya khas Malang. Perpaduan unsur religi dan budaya inilah yang membuat tradisi Mbabar Mbubur Suro ber ciri khas tersendiri.

Bubur Dibagikan Sebagai Simbol Kebersamaan

Setelah melalui proses doa bersama, bubur kemudian dibagikan kepada warga, peziarah, maupun masyarakat yang hadir.

Tradisi ini dikenal dengan Andum Bubur Suro, yang menjadi simbol berbagi rezeki sekaligus mempererat hubungan antar warga. Bubur biasanya disajikan di atas daun pisang lengkap dengan lauk pendamping sehingga memiliki cita rasa yang sederhana namun penuh makna.

Filosofi di Balik Bubur Suro

Di balik tampilannya yang sederhana, Bubur Suro memiliki filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat Jawa.

Warna putih pada bubur melambangkan awal tahun yang bersih dan penuh harapan. Teksturnya yang lembut menggambarkan sikap legawa, rendah hati, dan mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan.

Sementara proses memasak sampai membagikan bubur bersama-sama menjadi simbol semangat guyub rukun atau hidup berdampingan dalam kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial.

Sampai sekarang, Mbabar Mbubur Suro menjadi salah satu tradisi budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Malang sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus pengingat bahwa nilai gotong royong tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

 

Berita Terkait