Indiekraf.com – Kalau ngomongin festival di Malang, mungkin yang langsung kepikiran adalah konser atau event kuliner. Padahal, ada juga festival budaya yang setiap tahunnya selalu ditunggu warga karena punya konsep yang beda. Namanya Festival Kampoeng Dilem Kasanga 2026.
Festival yang digelar di Desa Gondowangi, Kecamaan Wagir, Kabupaten Malang ini bukan sekedar hiburan. Selama sepekan, kawasan Kampoeng Dilem berubah jadi ruang berkumpulnya seni tradisional, kuliner khas, UMKM lokal, sampai berbagai komunitas yang ikut meramaikan acara.
Yang bikin festival ini menarik, semuanya dikemas dengan nuansa kampung yang hangat. Jadi pengunjung nggak cuma datang untuk lihat pertunjukkan, tapi juga bisa merasakan suasana gotong royong yang masih kuat dijaga warga setempat.
Tahun Ini Masuk Gelaran Ke-9
Festival Kampoeng Dilem tahun ini berlangsung 5-11 Juli 2026 dan menjadi penyelenggaraan yang ke-9. Tahun ini, festival mengusung tema “Kaping Sanga, Nyawiji Rasa Lumantar Budaya”, yang kurang lebih bermakna menyatukan rasa lewat budaya.
Tema tersebut diwujudkan lewat konsep Ruang Rindu, yaitu menghadirkan kembali berbagai tradisi, kesenian, sampai suasana kampung yang mulai jarang ditemui di tengah kehidupan modern.
Isinya Nggak Cuma Pertunjukan Seni
Selama festival berlangsung, kawasan Gang Dilem dipenuhi berbagai aktivitas yang bikin suasana hidup dari siang sampai malam.
Ada Pasar Rakyat yang diisi kuliner tradisional, jajanan jadul, sampai produk UMKM lokal. Di sisi lain, panggung utama bergantian menghadirkan Tari Tradisional, Jaranan, Reog Ponorogo, Bantengan, musik etnik, hingga pagelaran Wayang Kulit sebagai penutup festival.
Buat yang penasaran sama permainan zaman dulu, tersedia juga area Kampung Dolanan. Di sini, pengunjung bisa melihat berbagai permainan tradisional yang dulu akrab dimainkan anak-anak sebelum era gadget.
UMKM Lokal Ikut Tumbuh Lewat Festival
Festival ini juga menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif di Desa Gondowangi untuk memperkenalkan produk mereka. Mulai dari makanan khas, kerajinan tangan, hingga karya kreatif warga bisa ditemukan selama acara berlangsung.
Nggak heran kalau Festival Kampoeng Dilem bukan cuma soal melestarikan budaya, tapi juga ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.
Punya Julukan “Laboratorium Toleransi”
Satu hal yang membuat Festival Kampoeng Dilem berbeda dari festival budaya lainnya adalah nilai toleransi yang selalu dijaga.
Pembukaan festival diawali dengan doa bersama yang melibatkan empat lintas keyakinan, yaitu Islam, Hindu, Kristen, dan Penghayat Kepercayaan. Warga dari berbagai latar belakang juga ikut bergotong royong menjadi panitia, menyiapkan konsumsi, hingga memastikan festival berjalan lancar.
Karena itu, Festival Kampoeng Dilem sering disebut bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga menjadi contoh bagaimana keberagaman bisa berjalan berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.