
indiekraf.com – Malang Creative Center (MCC) menjadi salah satu ruang publik paling aktif bagi pelaku ekonomi kreatif di Kota Malang. Hampir setiap hari, berbagai kegiatan berlangsung di dalam gedung delapan lantai ini. Mulai dari workshop, pameran, diskusi komunitas, sampai event berskala nasional.
Pada kamis, 5 Maret 2026 misalnya, lantai 4 MCC dipenuhi pengunjung yang datang untuk menghadiri Mega Bazaar Eiger. Sementara itu, di lantai lainnya berlangsung juga kegiatan edukasi seperti Safari Dongeng dan pelatihan bagi penyandang disabilitas. Aktivitas tersebut menunjukkan jika MCC bukan hanya sekedar gedung, tetapi juga menjadi pusat pertemuan untuk berbagai komunitas kreatif di Malang.
Namun di balik aktivitas yang ramai tersebut, ada satu pertanyaan penting yang mulaii muncul, bagaimana memastikan keberlanjutan operasional gedung ini di masa depan?
Dampak Nyata MCC bagi Ekosistem Kreatif
Sejak mulai beroperasi, MCC telah memberikan dampak besar bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kota Malang. Berdasarkan data terbaru hingga Januari 2026, gedung ini telah menyelenggarakan lebih dari 24.826 event yang melibatkan berbagai sektor industri kreatif.
Tidak hanya itu, kegiatan di MCC juga telah menjangkau lebih dari 1.059.482+ penerima manfaat. Angkat tersebut mencerminkan besarnya peran gedung ini sebagai ruang belajar berjejaring, sekaligus berkolaborasi bagi masyarakat.
Ekosistem kreatif yang terbentuk juga cukup luas. Tercatat sekitar 4.180 pelaku ekonomi kreatif dan 223 kolaborator lintas sektor telah terlibat dalam berbagai program di MCC. Bahkan, gedung ini juga menjadi tempat lahirnya berbagai inisiatif bisnis baru melalui program inkubasi, dengan 23 startup dan 21 tenant kreatif yang mendapatkan pendampingan.
Sebagian besar kegiatan tersebut didominasi komunitas dengan persentase 62,13%, disusul sektor bisnis sebesar 17,79% dan akademisi 15,03%. Hal ini menunjukkan bahwa MCC benar benar berfungsi sebagai titik temu antara komunitas, industri, dan dunia pendidikan.
Biaya Operasional yang Tidak Sedikit
Sebagai gedung kreatif dengan delapan lantai dan berbagai fasilitas modern yang ada, MCC membutuhkan biaya operasional yang cukup besar. Setiap tahunnya, pengelolaan gedung ini memerlukan sekitar RP. 7,5 miliar untuk membayar listrik, perawatan fasilitas, keamanan, sampai kebersihan.
Saat ini MCC masih berstatus UPT (Unit Pelaksana Teknis) di bawah Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang. Artinya, sebagian besar biaya operasionalnya masih bergantung pada APBD atau anggaran pemerintah daerah.
Di satu sisi, keberadaan MCC memberikan manfaat besar bagi pelaku ekonomi kreatif. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana gedung ini bisa tetap berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran daerah.
Rencana Transformasi Menjadi BLUD
Untuk menjawab tantangan tersebut, muncul wacana menjadikan MCC sebagai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Status ini memungkinkan pengelola gedung memiliki fleksibilitas dalam mengelola keuangan.
Jika MCC menjadi BLUD, pengelola dapat mencari sumber pendapatan secara mandiri. Misalnya melalui penyewaan ruang, kerja sama dengan brand nasional, atau penyelenggaraan event komersial. Pendapatan tersebut nantinya bisa langsung digunakan untuk mendukung operasional gedung.
Namun wacana ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan komunitas kreatif. Sebagian pelaku ekraf takut MCC akan berubah menjadi ruang komersial yang sulit diakses oleh komunitas kecil yang belum memiliki kemampuan finansial besar

Konsep Subsidi Silang untuk Menjaga Ekosistem
Salah satu konsep yang mulai dibicarakan adalah strategi subsidi silang. Dalam konsep ini, sebagian area gedung dapat dimanfaatkan untuk aktivitas komersial seperti bazaar, pameran brand besar, atau tenant kreatif.
Pendapatan dari kegiatan tersebut kemudian digunakan untuk membiayai operasional ruang komunitas yang tetap dapat digunakan secara gratis atau dengan biaya sangat terjangkau.
Dengan kata lain, aktivitas bisnis justru membantu menjaga keberlanjutan ruang kreatif yang selama ini menjadi rumah bagi berbagai komunitas di Malang.
Contoh kecilnya sebenarnya sudah terlihat dalam berbagai kegiatan di MCC. Event seperti bazaar brand nasional mampu menarik banyak pengunjung dan menghidupkan aktivitas ekonomi di dalam gedung, sementara di saat yang sama kegiatan edukasi dan komunitas tetap berjalan.
Mencari Titik Temu antara Kreativitas dan Keberlanjutan
Perdebatan mengenai masa depan MCC sebenarnya mencerminkan tantangan yang sering muncul dalam pengelolaan ruang kreatif publik. Di satu sisi, gedung ini diharapkan menjadi ruang bebas bagi komunitas untuk berkarya. Namun di sisi lain, pengelolaan fasilitas sebesar MCC juga membutuhkan sistem yang berkelanjutan secara finansial.
Karena itu, transformasi tata kelola MCC tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih matang. Kreativitas memang penting, tetapi keberlanjutan juga tidak kalah penting agar ruang seperti MCC bisa terus hidup dan berkembang.
MCC telah menjadi simbol berkembangnya ekonomi kreatif di Kota Malang. Ribuan komunitas, kreator, dan pelaku industri kreatif telah memanfaatkan ruang ini untuk berkolaborasi dan menampilkan karya mereka.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menjaga aktivitas kreatif tetap berjalan, tetapi juga memastikan gedung ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, MCC tidak harus memilih antara ruang komunitas atau kemandirian ekonomi.
Justru keduanya bisa berjalan berdampingan, sehingga MCC tetap menjadi rumah bagi kreativitas sekaligus memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk masa depan.
Baca Juga:



