Selamat Datang di Indiekraf Media – Kunjungi Juga Studio Kami untuk Berkolaborasi lebih Keren :)

5 Tradisi di Malang yang Masih Lestari, Bukti Budaya Lokal Tetap Hidup di Tengah Zaman Modern

Facebook
X
LinkedIn
Email
Print

Indiekraf.com – Terkenal dengan banyak wisata alam, kuliner, dan suasana yang sejuk.  Malang punya banyak tradisi yang masih bertahan sampai sekarang. Bahkan, beberapa di antaranya masih rutin digelar setiap tahun dan terus diwariskan ke generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup yang serba modern, masyarakat Malang tetap menjaga berbagai tradisi sebagai bagian dari identitas daerah. Nggak cuma jadi warisan budaya, tradisi – tradisi ini juga punya nilai kebersamaan, rasa syukur, sampai sejarah yang menarik untuk dikenal.

Berikut beberapa tradisi khas Malang yang masih eksis sampai sekarang:

Bersih Desa, Tradisi Syukuran yang Masih Rutin Digelar

Sumber Gambar : Kabupaten Malang

Salah satu tradisi yang masih sering dijumpai adalah Bersih Desa atau yang dikenal dengan Slametan Desa. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen, keselamatan, dan kehidupan yang diberikan sepanjang tahun.

Biasanya, Bersih Desa diramaikan dengan berbagai kegiatan seperti kirab budaya, doa bersama, kenduri, sampai pertunjukan kesenian tradisional. beberapa wilayah di Kota Malang masih rutin menggelar setiap tahun sebagai bagian dari tradisi turun-temurun.

Larung Sesaji Jadi Simbol Rasa Syukur Masyarakat Pesisiran

Sumber Foto : GenPi.co JATIM

Kalau bergeser ke wilayah Malang Selatan, ada tradisi Larung Sesaji yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat pesisir.

Tradisi ini biasanya berlangsung setiap bulan Suor, dimana masyarakat nelayan melarung hasil bumi dan sesaji ke laut sebagai bentuk syukur sekaligus doa agar diberi keselamatan saat melaut.

Meski lokasinya ada di wilayah Kabupaten Malang, Larung Sesaji tetap menjadi salah satu tradisi yang melekat dengan identitas budaya Malang Raya.

Tari Topeng Malangan dan Jaranan Masih Sering Tampil

Sumber Foto : Hypeabis

Kalau mendengar kesenian khas Malang, dua nama yang paling sering muncul tentu Tari Topeng Malangan dan Jaranan.

Menariknya, dua kesenian ini bukan cuma tampil saat festival budaya saja. Sampai sekarang, Tari Topeng Malangan dan Jaranan masih sering dipentaskan dalam acara adat, bersih desa, khitanan, sampai berbagai event budaya di Kota Malang.

Regenerasi juga terus dilakukan melalui sanggar sanggar seni yang aktif mengenalkan budaya ini kepada anak-anak sampai remaja.

Nyadran, Tradisi yang Selalu Hadir Menjelang Ramadhan

Sumber Gambar : Kabupaten Malang

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Malang juga masih menjaga tradisi Nyandran atau ziarah kubur bersama keluarga.

Tradisi ini biasanya dilakukan dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan mengirim doa kepada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Selain menjadi penghormatan kepada leluhur, Nyandran juga menjadi momen berkumpul yang mempererat hubungan antar keluarga.

Meski zaman sudah berubah, tradisi ini tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa, termasuk Malang.

Bahasa Walikan, Identitas Khas Arek Malang

Sumber Gambar : TIMES Indonesia

Kalau ada satu tradisi yang masih sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, jawabannya adalah Bahasa Walikan atau Osob Kiwalan.

Bahasa khas Malang ini terbentuk dengan cara membalik susunan kata, misalnya Malang jadi Ngalam atau makan jadi nakam.

Awalnya, Bahasa Walikan digunakan sebagai kode komunikasi para pejuang pada masa perjuangan kemerdekaan. Namun seiring waktu, bahasa ini berkembang menjadi identitas khas Arek Malang dan masih sering digunakan sampai sekarang, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di berbagai produk kreatif lokal.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi-tradisi tersebut menunjukkan kalau budaya lokal tetap punya tempat di hati masyarakat. Berkat peran komunitas, budayawan, sampai pelaku ekonomi kreatif, berbagai warisan budaya Malang terus hidup dan dikenalkan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang ditelan waktu.

Berita Terkait