Aplikasi Digital dan GameDigital KreatifKabar Kreatif

Jadi Decacorn Pertama Dari Indonesia, Begini Jalan Panjang yang Dilalui Gojek

Bukan Cuma Unicorn, Tapi Ini Decacorn!

INDIEKRAF.COM – Sebuah laporan dari lembaga riset CB Insight dengan judul ‘The Global Unicorn Club’ menyatakan, bahwa valuasi PT Karya Anak Bangsa, atau yang dikenal dengan Gojek, telah mencapai USD 10 miliar (Rp 140 triliun). Dimana hal ini berarti, startup berbasis layanan on-demand ini sudah mentahbiskan diri sebagai decacorn, dan keluar dari ‘klub unicorn’. Status decacorn diberikan kepada startup yang mencapai nilai valuasi USD 10 miliar.

Seperti dilansir dari KataData.com, laporan dari CB Insight membeberkan, total pendanaan terakhir (Seri F-II) yang diterima oleh Gojek sudah mencapai USD 3,3 miliar di 5 Maret 2019. Pada pendanaan Seri F sebelumnya, Gojek mendapat tambahan kapital USD 1 miliar (Rp 14 triliun) dari beberapa perusahaan, seperti Google, JD.com, serta Tencent, plus beberapa investor lainya, seperti juga Mitsubishi Corporation dan Provident Capital, yang menggelontorkan dananya di awal 2019 lalu.

Baca juga:

foto: papua.co

Dalam pendanaan seri F-II, disebutkan bahwa Astra Internasional menjadi investor dengan nilai terbesar, sementara yang lain belum diketahui nilai dan asalnya. Pasca pendanaan terakhir ini, Gojek diprediksi sudah mencapai nilai valuasi Rp 140 triliun.

Salah satu sumber internal dari Blommberg mengatakan, Gojek sudah meminta salah satu bank investasi untuk bisa mengulurkan bantuan dalam menggalang dana Seri F-II ini.

“Gojek mencari investasi US$ 2 miliar, yang secara total bisa mencapai US$ 3 miliar dalam putaran pendanaan ini,” sebagaimana dikutip dari Bloomberg, pada Februari lalu.

CEO Gojek Nadiem Makarim berkata, pasca putaran pendanaan seri terakhir ini, semua founder Gojek dipastikan masih memiliki kontrol penuh dalam pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan dari perusahaan dengan warna khas hijau tersebut. Asisstensi pendanaan ini, membuat mereka bisa lebih mudah dalam merealisasikan visi perusahaan, dan melakukan ekspansi dalam diferensiasi bisnis.

Perjalanan panjang pendanaan Gojek

foto: MLD SPOT

Dari catatan CB Insights, diketahui Gojek pernah mendapatkan modal dari perusahaan kapital Canada, Vanedge Capital. Kemudian perusahaan yang akrab dengan pengemudi ojek ini mulai mendapat pendanaan awal (seed funding) dari modal ventura asal Singapura, Openspace venture di Juni 2015.

Kemudian di tahun yang sama, pada Bulan Agustus, Gojek mulai mendapatkan pendanaan seri A dari Sequoia India dan Formation Group, dimana hal ini langsung melejitkan nilai valuasi mereka menjadi USD 200-500 juta. Selanjutnya, Gojek bisa meraih pendanaan seri B, dengan nilai USD 550 juta dari KKR, Warburg, Ferrara dan Capital Group Private Market di Bulan April 2016.

Di tahun 2016 itu, valuasi Gojek sudah mencapai USD 1,3 miliar atau sudah menjadi unicorn. Pada 2017, Gojek mulai membuka putaran pendanaan seri C. Investor yang turut masuk di seri C ini adalah Tencent, yang mengucurkan dana mencapau USD 150 juta. Tapi, total pendanaan yang diperoleh dalam putaran ini, nilai investasinya diprediksi mencapay USD 1,2 miliar. Artinya nilai valuasi Gojek kembali meningkat, mencapai USD 2,5 miliar.

Pada awal tahun 2018 lalu, Gojek mulai memutar pendanaan seri D mereka. Di Bulan Januari, Gojek mendapat suntikan modal USD 1,5 miliar dari gabungan antara Astra International, BlackRock, blibli.com, Google, JD.com, Kohlberg Kravis Robert & Co., Meituan Dianping, Samsung Ventures, Tamasek Holdings, Tencent Holdings, Via-ID dan Warburg Pincus. Valuasi Gojek pun melejit hingga USD 5 miliar.

Masih di tahun 2018, Gojek kembali mengadakan pendanaan seri E. Disebutkan CB Insight, Allianz lah yang kali ini masuk sebagai investor, dengan nilai pendanaan mencapai USD 35 juta. Lalu selanjutnya, Gojek langsung membuka pendanaan seri F di awal 2019. Dari sini, mereka mendapatkan perolehan USD 1 miliar.

Hingga yang terakhir, Gojek langsung ngebut dengan pendanaan putaran Seri F-II, dan langsung menempatkan mereka sebagai decacorn pertama dari Indonesia.

Hal ini membuat Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara memprediksi, bahwa bukan hanya Gojek yang menjadi decacorn dari Indonesia. Menurutnya, tahun ini akan ada startup Tanah Air lainnya yang memperoleh status decacorn ini.

“Setidaknya ada satu (decacorn). Tapi potensinya ada dua,” katanya, pada Januari 2019 lalu.

Tag
Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Back to top button
Close
Close