Kabar KreatifKriyaSosok

Mochamad Theo Zaenuri, sosok socialpreneur kreatif berdaya bersama kaum marjinal

Penulis: Nasrul (@Gesercuy)

Mochamad Theo Zaenuri adalah sosok socialpreneur kreatif mantan pengguna narkoba . Ia memutuskan berhenti menjadi pecandu narkoba sejak tahun 1999. Stigma yang ia terima membuatnya tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Sehingga ia harus bekerja keras dimulai dari berjualan produk organik hingga bubur bayi pernah ia lakukan untuk mendapatkan penghasilan.

Tidak hanya dia, begitu pula dengan teman-teman Theo dan kaum teman-teman marjinal mantan pecandu, mantan narapidana hingga orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka yang tak memiliki pekerjaan akhirnya mengais uang di ruang non formal, seperti menjadi polisi cepek.

Dengan kenyataan yang pernah ia alami, tergerak hati dia untuk memberdayakannya. Dimulai dengan mendirikan Yayasan Sadar Hati pada tahun 2000 untuk penanggulangan HIV/AIDS. Mereka yang positif HIV/AIDS mendapat stigma lagi memiliki penyakit menular. Padahal, penularannya tidak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang.

Perihal penyebaran HIV dikutip dari website aladokter.com: “Di Indonesia faktor penyebab dan penyebaran virus HIV/AIDS terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu melalui hubungan seks yang tidak aman dan bergantian jarum suntik saat menggunakan narkotika”

Stigma-stigma yang terbentuk di masyarakat membuat para kaum ini sangat sulit berdaya, makin kompleks lagi dimana setelah mereka bebas, mereka harus berjuang untuk hidup dengan mencari uang, kebanyakan tempat pekerjaan sangat susah menerima mantan pengguna narkoba, ODHA, apalagi yang pernah dipenjara sebagai karyawan disuatu tempat pekerjaan.

Theo bersama teman-teman yang terkumpul di Yayasan Sadar Hati sebuah yayasan yang fokus terhadap orang-orang yang menjadi korban narkoba dan penderita HIV/AIDS yang bertempat di Kota Malang.

Menurut Theo sosok aktivis sekaligus pendiri yayasan Sadar Hati selama ini yayasan yang berdiri sejak 2002 silam ini terlalu bergantung pada donor asing. “Semakin lama, dana asing ini semakin mengecil, otomatis kami harus survive sendiri,” beber Theo. Yang kami kutip dari tabloindbintang.com

Berdasar dari kenyataan yang Theo rasakan, membuat ia berpikir untuk berdaya bersama kaum yang terpinggirkan. Sudah beberapa usaha ia lakukan untuk terus berjuang bersama teman-teman Yayasan Sadar Hati. Mulai dari pertanian organik hingga menjajakan pernak-pernik dilakukan, namun gagal membuahkan pemasukan bagi yayasan ini.

Ditengah Theo harus berjuang bersama teman-temannya datanglah sebuah ide, Ide ini datang dari teman Theo asal Australia di saat ia sedang membahas perkembangan isu AIDS di Indonesia dengannya tahun 2011 lampau. “Waktu itu teman yang dari Australia membawakan kacamata kayu dan kami tertantang untuk memproduksinya,” ceritanya.

Theo tertarik karena kacamata dari kayu itu unik dan belum banyak diproduksi berbeda dengan kacamata plastik. “Kalau kacamata plastik, pasti kan kulak dari Tiongkok, jadi nantinya para anggota komunitas tidak belajar suatu keahlian.” Ungkapnya

Tahun 2015 Theo bersama teman-temannya membentuklah sebuah Komunitas SAHAWOOD di Malang yang beranggotakan para mantan pecandu narkoba, mantan narapidana, dan penderita HIV/AIDS. Komunitas ini dibuat untuk menjadi solusi atas pendanaan bagi yayasan Sadar Hati.

https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/
https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/

Bermodalkan dana yayasan, Sahawood mulai memproduksi kacamata dari kayu jati dan sonokeling daur ulang. Berbeda dengan sonokeling yang sudah memiliki warna yang lebih gelap dan corak yang lebih bagus, itu membuat kacamata dari sonokeling lebih diminati.

Kayu ini diperoleh dari sisa mebel dan kusen rumah lama, sedangkan engsel kacamata dari rantai motor. Harga kacamata kayu SAHAWOOD  dibanderol mulai dari Rp 550.000-Rp 600.000. Para pengrajin pun memperoleh Rp 100.000 untuk satu kacamata yang mereka produksi.

Untuk menjadi anggota komunitas, ujar Theo, harus mendapat rekomendasi dari para staf pendamping. Sahawood juga terbuka untuk siapapun yang berlatar belakang penggunaan narkoba dan penderita AIDS.

Tidak hanya para mantan pecandu, mantan napi atau para penderita AIDS, Sahawood juga memperkerjakan para wanita kurang mampu untuk membuat sarung dan tabung kacamata.

Sekitar 10 persen dari laba bersih digunakan untuk donasi biaya pemulihan adiksi narkoba, biaya pendidikan anak kurang mampu, dan untuk program HIV/AIDS yang disalurkan lewat yayasan Sadar Hati.

Hingga kini Sahawood telah membawa dampak positif bagi para anggotanya yaitu pengakuan dari lingkungan sekitar. “Mereka (para kaum marjinal) memperoleh pendapatan, bisa hidup layak, diterima dan memperoleh pengakuan kembali dari masyarakat terutama keluarga,” ungkap Theo.

https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/
https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/

Tak semudah yang dibayangkan

Bukan hal yang mudah pula bagi Theo meyakinkan mereka yang dipinggirkan. Mereka sudah pesimis dengan kehidupan. Pemicunya pun banyak, misalnya ada yang ingin bergabung, tapi karena di sini ada perajin yang dulu pernah sama-sama jadi pemakai, jadi mundur.

”Dia khawatir akan kembali jadi pemakai kalau ketemu lagi, padahal belum tentu. Kalau ada yang seperti itu saya ajak mereka memahami kondisi mereka saat ini yang tidak diuntungkan dalam kondisi sosial, kesehatan dan ekonomi. Lalu kapan lagi kalau tidak sekarang? Makanya sesuai tagline kami See The Future, saya aja mereka melihat masa depan mereka,” terang Theo.

Mereka yang pernah menjadi pemakai biasanya selalu melihat pengalaman di masa lalu. Karena memori otaknya menyimpan momen-momen yang menyenangkan saja saat menjadi pemakai.

”Makanya mereka diajak melihat kebutuhan mereka, kalau menganggur bisa ada godaan untuk kembali jadi pemakai. Belum lagi kalau mereka sudah terkena AIDS, berapa biaya yang dibutuhkan untuk berobat?” ungkap Theo. Jumlah mereka yang jadi perajin kacamata kayu ini pun naik turun.

Theo juga memberdayakan ibu- ibu dengan ekonomi lemah untuk membuat aksesori kacamata kayu. Seperti kantung kacamata atau tabung bambu tempat kacamata. ”Daripada nge-rumpi dan tidak tahu harus bikin apa, mereka bisa kerjakan aksesori ini di rumah,” katanya.

Untuk membangun semangat para perajin, ketika produk sudah jadi, mereka akan langsung menerima bayaran. Dampaknya positif, bukan hanya peningkatan ekonomi semata, yang tak kalah penting adalah perubahan perilaku.

”Perilakunya stabil, attitude baik, tidak pakai narkoba lagi, hubungan dengan keluarganya baik. Mereka dapat apresiasi dari sekitarnya karena jadi banyak tamu berkunjung ke workshop dan diketahui media. Dengan adanya kunjungan mereka juga jadi belajar bicara. Paling penting dari itu semua membuat mereka berusaha bertahan agar hidupnya stabil,” kata Theo.

SAHAWOOD telah diekspor ke Eropa

https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/
https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/

10 persen dari laba bersih yang ia donasikan ke yayasan Sadar Hati tadi, ternyata belum termasuk pendapatan dari pesanan ekspor dari Inggris dengan kontrak 600 buah kacamata per enam bulan dan pesanan kacamata custom.

Kini ia menargetkan produksi kacamata bisa digenjot sampai 250 buah per hari sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini, kata dia, respons pasar cukup bagus, terutama di Eropa. “Eropa menghargai produk yang ramah lingkungan,” katanya.

Diakui Theo, bukan tanpa kendala, Sahawood terus membangun kepercayaan para anggotanya sembari mencari solusi berbagai kebijakan yang tidak mendukung bisnis sosial ini.

“Kami harus meyakinkan para anggota bahwa produk ini laku dijual dan terkadang mengikuti kompetisi untuk memperoleh dana hibah,” tutur Theo. Dikarenakan sulitnya memperoleh pinjaman lunak akibat ketiadaan jaminan.

Sahawood https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/
Sahawood https://www.instagram.com/sahawood_eyewear/

”Walau saya juga pelaku bisnis, tapi dari bisnis sosial ini bukan keuntungan semata yang bisa saya dapat, tapi bisa memperbaiki kehidupan masyarakat. Itu jadi motivasi saya untuk terus bantu komunitas lain,” ungkap Mochamad Theo Zaenuri.

Sumber Artikel:

https://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/read/73055/mochamad-theo-zaenuri-pengakuan-kelompok-marjinal-lewat-kacamata-kayu

http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=17060213

http://beritajatim.com/siapa_dia/274083/mantan_napi_ciptakan_kacamata_dari_kayu_jati.html

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close