Industri KreatifSharing ExpertTak Berkategori

Bisakah Ekonomi Kreatif Jadi Solusi Pengangguran Terdidik di Kota Malang?

Data BPS Tahun 2017 menunjukkan pengangguran terdidik di Kota Malang mencapai 31.993 orang

INDIEKRAF.COM – Kota Malang memang Kota yang terus menunjukkan geliatnya dalam waktu ke waktu. Bahkan karena geliatnya yang dinamis tersebut, membuat Malang mendapatkan banyak julukan. Mulai dari Kota Bunga, Kota Dingin, Kota Pendidikan, hingga yang terkini adalah Kota Kreatif. Sebutan terakhir, didapatkan Kota Malang dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Bersama Balikpapan, Malang ditetapkan sebagai Kota Kreatif dengan sub sektor aplikasi dan gim.

Membanggakan bukan, bahwa kota kecil yang memang hampir tidak memiliki sumber daya alam layaknya, daerah tetangga ini ternyata punya potensi besar dan diakui secara nasional, yaitu potensi ekonomi kreatif yang sebenarnya menjadi sumber daya tidak berbatas.

Namun ditengah euforia ekonomi kreatif tersebut, dan berkembangnya pesatnya pelbagai aplikasi dan gim di Kota Malang. Ada satu fenomena yang cukup mengejutkan dari kota yang sering disebut sebagai Bhumi Arema tersebut. Dimana angka pengangguran mulai 19-24 tahun yang disebut sebagai penganguran terdidik jumlahnya cukup banyak. Sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, menyebutkan bahwa angka pengangguran terdidik di Kota Malang masih sebanyak 31.993.

Memang belum ada survey terbaru yang menunjukkan, apakah angka ini sudah menurun, atau justru bertambah. Namun jika melihat daya tampung perguruan tinggi – perguruan tinggi di Kota Malang yang terus bertambah tiap tahun, bisa jadi angkanya jelas bertambah. Lantaran lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan ruang kerjalah menjadi penyumbang tertinggi pengangguran terdidik.

Ekraf jadi solusi

Dalam Bekraf Developer Day (BDD) di Malang, pada awal Bulan Agustus 2019, Walikota Malang Sutiaji juga turut menyoroti tingginya angka pengangguran terdidik tersebut. Menurutnya, hal tersebut memang menjadi masalah yang harus disegerakan solusinya.

Salah satu jalan keluar, menurut mantan Wakil Walikota Malang tersebut, adalah ekonomi dan industri kreatif. Ia sangat yakin, dengan terus menggenjot perkembangan sub sektor aplikasi dan gim khususnya, 15 sub sektor ekonomi kreatif yang lain di Malang, pelan tapi pasti akan mampu menjadi ‘penampung’ bagi pengangguran terdidik tersebut.

Sutiaji memaparkan bahwa salah satu terobosan yang sedang dilakukan pihaknya, adalah dengan segera melakukan pembangunan Malang Creative Center (MCC) yang nantinya diharapkan akan menjadi pusat perkembangan ekonomi kreatif di Kota Malang.

Tantangan Ekraf mengatasi pengangguran terdidik

Solusi yang dipaparkan oleh Sutiaji memang baik dan sangat masuk akal. Namun untuk bisa mencapai kearah sana jelas bukan perkara mudah. Sebelum ekonomi kreatif benar – benar menjadi pucuk andalan Kota Malang untuk sumber daya, dan mengatasi masalah pengangguran, ada berbagai hal yang harus diselesaikan oleh semua elemen yang terlibat, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas,bisnis dan juga media.

Apa saja, hal – hal yang perlu dipecahkan tersebut? Berikut ulasannya:

  1. Kurikulum yang mendukung ekonomi kreatif

Sejauh ini, secara umum kurikulum pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih belum terlalu mendukung ekonomi kreatif. Begitu pula dengan kampus – kampus yang ada di Kota Malang, selama ini juga masih belum memberikan porsi berlebih kepada ekonomi kreatif.

Memang beberapa perguruan tinggi di Malang sudah mulai menyentuh sisi – sisi ekonomi kreatif sebagai muatan kurikulumnya, namun ini belum semua. Sehingga memang diperlukan kesadaran bersama untuk bisa menumbuhkan spirit dan juga muatan ekonomi kreatif tersebut dari bangku kuliah.

Selain itu, menurut Founder Profilku Mobile, Arie Affianto, bahwa output dari perguruan tinggi, khususnya yang bersinggungan dengan IT masih sulit terserap dengan baik ke industri digital, karena memang seringkali kurikulum mereka tertinggal dari kebutuhan di lapangan.

2. Menciptakan ekosistem yang ideal

Konsep Penta Helix memang menjadi paling ideal dalma hal penciptaan ekosistem tersebut. Yaitu kolaborasi ABCGM antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas dan juga media. Memang di Malang belum tercipta sebuah bentuk kolaborasi ideal untuk hal tersebut. Sehingga, bisa jadi diperlukan forum yang bisa mempersatukan para pemangku kebijakan tersebut, seperti apa yang telah dilakukan saudara -saudara kita di Jawa Barat, melalui abcgmjabar.id

Namun yang patut mendapatkan apresiasi dan acungan jempol, memang sudah ada goodwill dari lima elemen penta helix tersebut di Malang untuk bisa membuat suatu kolaborasi. Setiap elemen setidaknya, saat ini sudah membuka diri untuk bisa saling membantu demi bisa menciptakan ekosistem yang ideal. Sekarang, mungkin tinggal mediasi dari pemerintah, selaku pemilik kebijakan untuk bisa mempersatukan penta helix di Kota Malang.

3. Menciptakan pasar lokal yang sehat

Mengacu pada pelabelan Kota Malang sebagai Kota Kreatif dengan sub sektor andalan aplikasi dan gim, tentu kurang lengkap, jika ternyata dua produk tersebut, justru masih minim terserap, bahkan diketahui oleh pasar lokal Malang sendiri.

Namun, suka tidak suka, inilah realita yang saat ini terjadi. Berbicara soal industri gim dan aplikasi, sosok Рsosok pelaku asal Kota Malang sebenarnya sudah tidak perlu diragukan. Sudah banyak diantara mereka yang mampu menjual produk hingga level internasional. Hanya saja, justru produk dan servis arek -arek asli Malang ini malah sulit berbicara banyak di tataran lokal sendiri.  Kita justru sangat jarang mendengar nama Рnama produk gim dan aplikasi asli Malang yang dimanfaatkan dan diketahui oleh warga Bhumi Arema sendiri.

Persoalan seperti inilah yang wajib dijadikan PR bersama. Bagaimana membuat masyarakat mencintai produk lokal sendiri, begitu pula dengan pelaku industrinya, yang benar – benar bisa menciptakan hal yang menjadi solusi dari masalah sosial dari warga lokal secara tepat.

Tag
Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Back to top button
Close
Close