Industri KreatifKriya

Kampung Budaya Polowijen Intensif Belajar Teknik Batik Ecoprint

Indiekraf.com-Tak ingin ketinggalan dengan daerah lain, kampung budaya Polowijen Kota Malang terus berbenah dan belajar. Terbaru warga kampung budaya Polowijen menggelar pelatihan membatik ecoprint bersama tim ahli dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, pada Sabtu (26/3/2022) lalu.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen Isa Wahyudi, mengungkapkan untuk meningkatkan kualitas produk yang dimiliki warga Kampung Budaya Polowijen terus banyak belajar. Hari ini secara khusus mempelajari pembuatan batik ecoprint dengan memanfaatkan bahan alam dari tanaman yang ada di sekitar Polowijen.

“Sebelum belajar batik, hari ini warga Kampung Budaya Polowijen sudah belajar berbagai teknik batik. Khusus hari ini adalah mendalami ecoprint dengan narasumber dari Untag,” jelas Isa melansir dari malangkota.go.id.

Pria yang akrab Ki Demang tersebut menambahkan agar bisa bersaing dengan daerah lain, maka batik dari kampung budaya Polowijen harus memiliki ciri khas oleh karenanya sumber daya manusianya yakni pembatiknya harus ditingkatkan ilmunya. Dengan semakin kaya teknik dalam pembuatan batik, akan banyak membantu warga Kampung Budaya Polowijen berinovasi.

Baca Juga:

“Untuk bisa bersaing di pasaran, batik asal Kampung Budaya Polowijen harus memiliki ciri khas tersendiri. Untuk itu sumber daya manusia pembantiknya harus terus ditingkatkan,” terangnya.

Saat ini di Kampung Budaya Polowijen sudah memiliki dua produk batik yang memiliki ciri khas dan sudah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Produk tersebut adalah batik motif Ken Dedes dan Topeng Malang. Ke depan akan terus dilakukan penggalian kearifan lokal untuk membuat batik-batik Kampung Budaya Polowijen.

Sementara itu, warga Kampung Budaya Polowijen Tatik Nur Fajriyah mengatakan, saat ini semakin serius mengembangkan batik agar kampung ini juga dikenal dengan kekayaan batiknya. Untuk itu berbagai pelatihan terus dilakukan sehingga semakin banyak memiliki karya yang bisa dijual.

“Saat ini ada sekitar 60 warga di Kampung Budaya Polowijen yang menekuni batik. Sebagian besar masih menjadi kerja sambilan. Harapannya, batik bisa menjadi andalan untuk meningkatkan kesejahteraan,” pungkas Titik.

Related Articles