Acara KreatifAplikasi Digital dan GameIndustri KreatifMbois MediaPelaku Kreatif

Perjuangan Dede Dalam Membangun Studio Game Satriver | Malang Good Works Podcast #11

Indiekraf.com – Perjuangan seorang Dalih Sugih Pangerti Septiaji atau yang biasa disapa dengan panggilan Dede dalam membangun studio game Satriver mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Dalam acara Malang Good Works Podcast #11, alumni dari SMKN 4 Malang tersebut menceritakan pengalaman pahit dan manisnya saat membangun Satriver.

Dede menceritakan bahwa masa kecilnya kerap dihabiskan dengan bermain game. Ketika menginjak usia remaja, ketertarikannya untuk mendalami dunia game semakin tinggi. Keyakinannya untuk berkarir di bidang tersebut semakin kuat ketika dirinya memberanikan diri untuk membangun studio Satriver ketika Ia masih duduk dibangku SMK.

Baca juga Bergabunglah dengan Satriver Studio Beradu Cepat di Game Mobile Baru Mereka

Selain suka bermain game sejak kecil, semangat untuk terjun ke dunia game juga datang dari dukungan orang tuanya. “Inspirasi membuat Satriver datang dari kesukaan saya bermain game dan dari orang tua. Setiap keluarga pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Ayah saya bilang, ketimbang kamu bermain game terus, kenapa kamu ga ngembangin game langsung,” jelasnya

Nama Satriver merupakan singkatan dari Satanic River. Sebagian besar game yang mereka buat memiliki unsur kritik kepada keadaan sosial yang ada di Indonesia. Hingga saat ini, mereka telah berhasil memiliki empat IP (Intellectual Property), diantaranya adalah Crazy Delivery Rumble, Last Gun, Monstra Balls, dan Night of Sorrow.

Baca juga Kisah Kesuksesan Studio Gim Dari Malang Simpleton

Dalam membangun studio game tersebut, tentunya Dede mengalami banyak rintangan. Hal ini dikarenakan sektor industri game masih belum begitu ‘terkenal’ di Indonesia ketimbang sektor industri lainnya seperti musik dan film. Sehingga, sedikit lebih susah untuk bisa mendapatkan keuntungan di sektor tersebut.

Padahal, industri game adalah salah satu sektor yang menjanjikan. Ini sudah dirasakan oleh negara-negara maju seperti Amerika dan Korea Selatan. “Game cukup menjanjikan, cuma memang untuk di Indonesia masih belum terbuka, matanya masih tertutup rapat untuk melihat potensi yang ada,” ujar Dede.

Namun, hal tersebut tidak membuat semangat Dede hilang. Perjuangannya dari tahun 2014 akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2020 kemarin, salah satu game buatan mereka yaitu Crazy Delivery Rumble berhasil mendapatkan investasi dari PT Telkom Indonesia, melalui program Indigo Game Startup Incubation. “Karena sudah dapat investment, kita bisa fokus dalam membangun produk,” ujarnya. Kini, Satriver sudah termasuk studio game berskala nasional dengan jumlah tim sebanyak 9 orang.

Penulis: Achmad Faridul Himam

Related Articles