InsightOpini Kreatif

Perubahan Iklim dan langkah  Inovasi Generasi Muhammadiyah Dalam Isu Energi Terbarukan

Alam semesta ini diciptakan oleh Allah swt sangat sempurna. Untuk mengatur kelangsungan kehidupan makhlukNya di muka bumi, Allah telah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk memakmurkan dan mengelolanya dengan cara yang baik sehingga tidak terjadi bencana di muka bumi (QS. Hud [11]: 61).

Indiekraf.com – Sesuai dengan ayat dalam surat tersebut, Islam sejatinya, menuntut manusia agar memperhatikan, menyayangi, merawat dan menghormati lingkungan. Bukan lagi meremehkan, melalaikan, bahkan memusnahkan. Sumber daya alam dan lingkungan diciptakan untuk umat manusia. Namun, manusia tidak boleh seenaknya menggunakan bahkan sampai merusaknya. Manusia diberikan hak untuk memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan batasbatas kewajaran. Sebagaimana sabda Nabi SAW

Pada pertemuan KTT G20 di Italia  (31/10), yang melibatkan 19 pemimpin negara dan Uni Eropa, telah mencapai sejumlah kesepakatan untuk mengataasi perubahan Iklim, serta mengurangi emisi dan kandungan berbahaya bagi lingkungan.

Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, tantangan dari sisi climate change akan menimbulkan konsekuensi yang dahsyat. Dimana perubahan iklim ini menjadi sangat kompleks karena berhubungan dengan rancangan kebijakan pemerintah. Tantangan ini pelik karena butuh design policy bersama.

Berdasarkan artikel yang ditulis Ellyvon Pranita menyatakan bahwa temuan yang dihimpun oleh Yayasan Cerah  Indonesia dimana 10 dampak dari perubahan Iklim khususnya di Indonesia yang terdiri dari :

1.Gelombang Panas Ekstrem

Berdasarkan penelitian di Journal of Geophysical Reasearch, Atmospheres oleh para peneliti yaitu Russo S,. Dosio A, dkk ; Indonesia akan mengalami lebih dari tiga kali kondisi gelombang panas ekstrem antara tahun 2020 dan 2052. Kemudian di antara tahun 2068 dan 2100, akan terjadi sebuah gelombang panas yang ekstrem akan terjadi setiap 2 tahun sekali. Contoh nyata  gelombang panas ekstrem terjadi di Rusia dan menewaskan 55.000 orang serta menghancurkan sekitar 9 juta hektar tanaman dan menyebabkan peristiwa kebakaran hutan.

2.Meningkatkan kejadian kebakaran hutan ekstrem

Pada skenario emisi yang tinggi diprediksi Kalimantan Timur dan Sumatera bagian Timur akan mengalami pemanasan hampir 4 derajat Celcius dan curah hujan berkurang 12 persen pada tahun 2070 hingga 2100. Hal ini akan menyebabkan sekitar 55 hari bahaya kebakaran ekstrem per tahun di Timur Kalimantan pada tahun tersebut. Sementara, di Sumatera Timur, jumlah hari bahaya kebakaran ektrem setiap tahun meningkat 17 hingga 64 hari.

3.Meningkatnya risiko kekeringan

Sejalan dengan potensi risiko kebakaran hutan ekstrem, risiko kekeringan juga akan meningkat akibat perubahan iklim ini. Wilayah Jawa dan bagian selatan Sumatera menjadi lebih kering 30-40 persen pada tahun tersebut. Sedangkan Wilayah Kalimantan Selatan dan Sumatera bagian utara pada tahun 2071 hingga 2100 akan menjadi lebih kering sekitar 20-30 persen.

4.Risiko banjir meningkat

Di antara  waktu tahun 1990 dan 2013, banjir sungai merugikan Indonesia sekitar 5,5 miliar US Dolar. Nah, perubahan iklim ini juga diperkirakan dapat meningkatkan kerusakan ekonomi akibat banjir sungai hingga 91 persen pada tahun 2030. Beberapa daerah yang berisiko banjir parah adalah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Pulau Maluku, dan Papua.

5.Meningkatkan dampak kerusakan topan

Beberapa waktu lalu, di Indonesia ada angin topan Seroja yang cukup berdampak pada beberapa bencana di tanah air, terutama bencana banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, kejadian angin topan atau siklon tropis Seroja ini menjadi salah satu contoh dari perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu sebesar 4 derajat Celcius di perairan Indonesia.

6.Kenaikan permukaan laut dan banjir pesisir (rob) Dari tahun 2000 ke 2030,

Kenaikan rata-rata permukaan air laut dapat meningkatkan risiko banjir pesisir atau rob sebesar 19-37 persen. Tidak hanya wilayah Pulau Jawa saja yang memang sudah rentan terhadap banjir rob ini, tetapi sebagian Sumatera bagian utara, Sulawesi Selatan juga berpeluang ikut terdampak.

7.Produksi beras menurun

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Agricultural Meteorology, menyatakan bahwa suhu udara memiliki pengaruh terbesar terhadap panen padi kultivar Ciherang, Jawa Barat. Padahal Ciherang menyumbangkan sekitar setengah dari produksi beras Indonesia. Tidak hanya itu, ada wilayah lain yang juga akan terdampak penurunan hasil panen jika emisi terlalu tinggi dan perubahan iklim terjadi. Di antaranya seperti Sumatera bagian utara dan Jawa, semua Kalimantan, dan Papua Barat.

8.Produksi kopi menurun

Peningkatan suhu yang diakibatkan oleh perubahan curah hujan diperkirakan akan menurunkan hasil kopi di Indonesia hingga 85 persen. Aceh yang saat ini termasuk wilayah cocok produksi kopi Arabika, jika terjadi kenaikan suhu 1,7 derajat Celcius maka akan kehilangan sekitar 90 persen dari tanah produksinya saat ini. Sementara, dari 210.000 hektar tanah di Sumatera Utara penghasil kopi Arabika, akan berkurang 15 persen atau sekitar 57.000 persen jika kenaikan suhu akibat perubahan iklim terjadi.

9.Ancaman lenyapnya terumbu karang dan wisata bahari

Terumbu karang diperkirakan akan mengalami kerusakan secara dramatis bahkan jika pemanasan globas dibatasi hingga 1,5 derajat Celcius sesuai dengan Perjanjian Paris. Namun, jika kenaikan suhu mencapai 2 derajat Celcius, maka hampir semua karang dan pariwisata bahari akan mulai hilang.

10.Pertumbuhan ekonomi terhambat Indonesia menderita kerugian tahunan rata-rata sebesar 45 juta US Dolar antara tahun 2000-2019

Akibat dari  bencana alam terkait iklim para ahli ekonomi memprediksikan, dalam skenario emisi terlalu tinggi dan perubahan iklim terjadi, maka pertumbuhan PDB Indonesia hanya  8.800 US Dolar per kapita pada tahun 2100. Hal ini berlawanan dengan skenario tidak ada perubahan iklim, dimana pendapatan per kapita Indonesia akan meningkat menjadi 38.500 US Dolar pada tahun 2100 tersebut.

Sementara itu, energi terbarukan/renewable energy dapat  mengurangi polusi udara. Sekitar 4,2 juta kematian setiap tahunnya berkaitan dengan polusi dan paparan udara, sementara analisis Harvard baru-baru ini menunjukkan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 lebih tinggi bagi masyarakat di kota-kota yang terkontaminasi.

Energi terbarukan yang didukung dengan sumber daya manusia, seperti industri dan ekonomi kreatif, melalui sentuhan teknologi juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi masyarakat dari efek berbahaya perubahan iklim sebagai mana yang telah disampaikan diatas.

 Bagi lebih dari dua pertiga negara di dunia, energi terbarukan adalah alternatif sumber listrik. Inilah saatnya mendorong energi terbarukan dan teknologi rendah karbon lainnya untuk menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga serta melestarikan ekosistem bumi.

Inovasi Generasi Muhammadiyah dalam isu energi terbarukan

Sebagai bagian dari organisasi Muslim terbesar di dunia, Muhammadiyah juga tidak berpaling dari isu lingkungan dan energi terbarukan ini. Generasi Muhammadiyah juga turut mencetuskan berbagai inovasi dalam rangka menjaga bumi, serta tetap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, dalam wujud energi terbarukan berikut ini:

1.Inovasi energi terbarukan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro)

Beberapa inovasi konkrit telah dilakukan oleh Generasi Muhammadiyah terkait dengan energi terbarukan. Pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH)  di Boon Pring Kabupaten Malang salah satu contohnya. Kegiatan ini terinspirasi dari kesuksesan UMM (Universitas Muhammdiyah Malang)  mengembangkan energi baru terbarukan ramah lingkungan dimana unit PLTMH yaitu Sengkaling 1 dan 2, memenuhi pasokan energi di Kampus Putih tersebut. PLTMH dibangun untuk menerangi Boon Pring sekaligus untuk lapak 82 pedagang.

Kedepan, semoga bisa memasok kebutuhan listrik masyarakat sekitar. Proses produksi listrik PLTMH Boon Pring diawali dari bak penampungan berukuran 2 x 2,5 meter. Berikutnya, air dialirkan melalui pipa berukuran 400 mm untuk menggerakkan generator yang selanjutkan menghasilkan listrik. PLTMH ini dibangun sejak 2019 dan beroperasi Maret 2020 dan full pembiayaan dari salah satu bank BUMN di Malang.

Ada PLTMH lain yang dikembangkan UMM, bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Selain Boon Pring, terdapat Sengkaling 1 dan 2, serta Sumber Maron. PLTMH Sengkaling 1 memanfatakan saluran air di Dam Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, yang sumbernya dari Daerah Aliran Sungai [DAS] Brantas. Untuk proses listriknya, menggunakan turbin crossflow dan propeller. Produksi energi rata-rata sebesar 80 kWatt, dengan energi harian sebesar 1.920 kWH. Energi tahunan diperkirakan mencapai 576.000 kWH [300 hari operasional].

2.Inovasi energi terbarukan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya)

Gagasan energi terbarukan ini diimplementasikan di Masjid K.H. Ahmad Dahlan, Karangploso, Kabupaten Malang. Muncul dari tim Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mitra dosen untuk merancang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Agustus 2021.

Salah satu anggota tim, Damas Yudha Muzakki mengatakan, sebagian besar masjid di Indonesia masih bergantung pada listrik dari PLN. Begitupun dengan Masjid dan gedung Taman Pendidikan Quran (TPQ) Aisyiyah serta tempat pengasuhan anak di lokasi tersebut. Penggunaan PLTS ini diharapkan bisa mengurangi penggunaan listrik yang biasa masjid gunakan.

3.Inovasi energi terbarukan PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut)

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama kampus di tingkat Internasional. Kali ini prestasi datang dari tim mahasiswa Teknik Mesin yang berhasil meraih juara satu kategori teknologi pada ajang Internasional Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2021. Tim ini terdiri dari dua orang mahasiswa yaitu Rifqi Alfareza Aryadi dan Evita Leninda Fahriza.

Adapun kompetisi ini diadakan secara daring (7/4) dan diikuti oleh peserta dari 20 negara. Pada perlombaan tersebut Rifqi dan Evita mengajukan inovasi teknologi pada bidang Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL), Alat ini mereka beri nama Sea Water Flow Power Plant. Pemilihan bidang PLTAL ini didasarkan pada tingginya potensi penggunaan PLTAL di Indonesia. Berbeda dari PLTAL lain, Rifqi berkata bahwa pembangkit buatan timnya menggunakan turbin archimedes untuk mengubah energi kinetik menjadi energi listrik.

Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya makhluk yang ada di langit akan menyayangi kalian..” (HR At Tirmidzi).

Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa setiap muslim selalu dituntut untuk terus berkarya, di antara dengan cara bercocok tanam, menganjurkan reboisasi (penghijauan).24 Penghijauan (reboisasi) ini banyak manfaatnya, di antaranya adalah: adanya pergantian sirkulasi udara sehingga udara di sekitar kita menjadi sejuk, dan terlihat indah.

Opini Oleh:

Prana Mahardika

Penulis Adalah  Mahasiswa Pascasarjana Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang

Related Articles