
indiekraf.com -Tanggal 1 April 2026 menjadi hari yang tidak akan mudah dilupakan, terutama bagi para pendengar setia Radio Wijang Songko (RWS FM). Setelah puluhan tahun mengudara sejak tahun 1968, radio ini akhirnya resmi mengakhiri perjalanan panjangnya di dunia siaran. Bukan sekadar berhenti, tapi benar-benar pamit dari sesuatu yang selama ini sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya tentang sebuah radio yang tidak lagi aktif. Tapi bagi mereka yang tumbuh bersama RWS FM, ini adalah kehilangan yang terasa nyata. Ada ruang yang tiba-tiba kosong, ada suara yang biasanya hadir kini menghilang. Sesuatu yang dulu terasa biasa, justru terasa sangat berharga saat sudah tidak ada.
Lebih dari Sekadar Radio
Sejak awal berdirinya, RWS FM dikenal sebagai radio yang punya identitas kuat. Program-program seperti campursari, koplo, hingga siaran interaktif bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan budaya dengan masyarakatnya. Di tengah gempuran media digital dan perubahan gaya hidup, RWS FM tetap bertahan dengan ciri khasnya sendiri.
Radio ini bukan sekadar memutar lagu, tapi juga menghadirkan suasana. Ada rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan, seolah-olah setiap siaran punya cara tersendiri untuk menyapa pendengarnya. Bahkan di saat teknologi semakin canggih, kehadiran RWS FM tetap terasa dekat, sederhana, dan apa adanya.
Tidak sedikit orang yang menjadikan RWS FM sebagai teman setia dalam berbagai momen. Dari pagi hari yang sibuk, perjalanan panjang, hingga malam yang sunyi, suara radio ini selalu hadir tanpa banyak diminta. Ada yang mendengarkannya sambil bekerja, ada yang menemani saat berkendara, bahkan ada yang menjadikannya pengisi keheningan di rumah.
Yang membuat RWS FM begitu melekat tentu bukan hanya programnya, tetapi juga para penyiar yang ada di baliknya. Nama-nama seperti Lek Dul, Temon, Menik, Nino, dan lainnya bukan sekadar penyiar, tapi sudah seperti sosok yang dikenal dekat oleh para pendengarnya. Cara mereka berbicara, bercanda, dan berinteraksi membuat setiap siaran terasa hidup dan personal.

Pendengar tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga ikut terlibat dalam cerita. Lewat siaran interaktif, banyak orang yang berbagi cerita, curhat, bahkan sekadar menyapa. Dari situlah tercipta hubungan yang tidak biasa antara radio dan pendengarnya, hubungan yang terasa tulus meskipun tidak pernah bertemu secara langsung.
Ketika Siaran Berhenti, Kenangan Tetap Tinggal
Kini, ketika RWS FM resmi berhenti mengudara, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang lagu-lagu yang pernah diputar. Lebih dari itu, yang tertinggal adalah momen-momen sederhana yang tanpa sadar menjadi bagian penting dalam hidup banyak orang.
Mungkin ke depan akan ada banyak media baru, platform yang lebih canggih, dan cara menikmati hiburan yang lebih praktis. Tapi tidak semua bisa menggantikan apa yang pernah diberikan oleh RWS FM. Karena ada hal-hal yang tidak bisa diukur dari teknologi, yaitu rasa kedekatan dan kenangan.
Kepergian RWS FM memang meninggalkan kesedihan, tapi juga menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sederhana seperti radio bisa memiliki makna yang begitu besar. Bahwa suara yang terdengar setiap hari, tanpa disadari, bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Dan kini, meski frekuensinya tak lagi terdengar, RWS FM tetap hidup, bukan di udara, tapi di ingatan.



