Selamat Datang di Indiekraf Media - Kunjungi Juga Studio Kami untuk Berkolaborasi lebih Keren :)

Menuju Indiekraf Studio
Industri KreatifInsightMbois MediaMCCWisata Kreatif

MCC Jadi Candi Badut Modern, Pacu Kreativitas Malang!

MCC jadi representasi Candi Badut versi modern, tempat berkumpulnya pelaku ekraf di Malang Raya yang bangunannya terinspirasi dari Candi Badut yang pernah berjaya di masa lalu

Indiekraf.com – Berdirinya gedung Malang Creative Center (MCC) di Kota Malang menjadi tonggak penting dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi kreatif (ekraf) di Malang Raya. Terletak di Kecamatan Blimbing, MCC tidak hanya sekadar bangunan besar dan modern saja, melainkan menjadi pusat dan wadah berkumpulnya para kreator dari 17 subsektor ekraf. Kabarnya desain gedung MCC juga terinspirasi dari Candi Badut, candi tertua di Jawa Timur yang terletak di Kota Malang.

Candi Badut, Kerajaan Kanjuruhan, dan Raja Gajayana

Candi Badut merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang dibangun  di era pemerintahan Raja Gajayana pada perkiraan abad ke-8. Candi ini erat kaitannya dengan Prasasti Dinoyo yang berasal dari tahun 760 Masehi, sehingga dikenal sebagai candi tertua di Jawa Timur.

Prasasti Dinoyo – Sumber foto: Wikipedia

Dalam prasasti tersebut diterangkan bahwa Raja Gajayana membangun candi untuk pemujaan kepada Sang Resi Agung dengan tujuan menghilangkan penyakit yang menghilangkan semangat di kalangan masyarakat. Dilansir dari berbagai sumber, Candi Badut merupakan saksi bisu kejayaan Kerajaan Kanjuruhan yang pada saat itu dipimpin oleh Raja Gajayana.

Diceritakan bahwa Raja Gajayana pada masa itu dikenal sebagai raja yang bijak, berwibawa, tegas, dan peduli terhadap masyarakat, sehingga di bawah kepemimpinannya Kerajaan Kanjuruhan menjadi kerajaan yang berkembang pesat, baik dari sisi pemerintahan, sosial, ekonomi, maupun sisi budayanya. Oleh karena itu keadaan kerajaan pada masa itu juga menjadi aman, tentram, makmur, dan stabil. 

Selain itu, Candi Badut juga pernah menjadi tempat para pelaku seni saling berkolaborasi dan menampilkan kesenian-kesenian mereka. Di tahun 2017 lalu, pernah diadakan kegiatan bertajuk Ajar Pusaka Budaya spesial anak-anak untuk memperingati hari anak sedunia sekaligus mengenalkan pendidikan sejarah dan kesenian tradisi sejak dini. Dimana dalam kegiatan tersebut melibatkan berbagai komunitas, pegiat sejarah, literasi, seni, dan budaya di Malang.

Anak-anak belajar menari di pelataran Candi Badut dalam kegiatan Ajar Pusaka Budaya spesial anak – Sumber foto: Terakota/Eko Widianto

Di tahun yang sama juga pernah diadakan kegiatan Bahana Badhut yang menampilkan berbagai pentas seni. Dalam konteks ini, bagi para seniman, arkeolog, budayawan, dan penyuka sejarah, bangunan candi tak hanya sebagai benda mati, peninggalan sejarah, cagar budaya, maupun simbol kejayaan serta ritual masa silam saja. Dilansir dari surabaya.tribunnews, candi juga dianggap sebagai hasil budaya yang menginspirasi proses kreatif yang bisa melahirkan ide.

Pentas seni Bahana Badhut di Candi Badut – Sumber foto: surabaya.tribunnews

Artikel yang sama juga menyampaikan bahwa kegiatan Bahana Badhut tak hanya untuk mengenang kembali kejayaan Kanjuruhan di masa lampau, tetapi juga untuk merefleksikan relasi sejarah dengan masa kini dan mengekspresikan kritik atas ketidakpedulian pada candi sebagai salah satu ikon kebudayaan bangsa.

Gedung MCC Terinspirasi dari Candi Badut

Di sisi lain, dalam pembangunan gedung MCC tak lepas dari unsur sejarahnya. Dikutip dari laman resmi MCC, gedung yang memiliki 8 lantai ini adalah sebuah replika Candi Badut dan merupakan titik yang tepat untuk menyerukan kebangkitan budaya Malang.

Dengan dipilihnya Candi Badut dalam pembangunan MCC, mengacu pada beberapa nilai yang dinilai cocok untuk perkembangan dan harapan MCC sebagai simbolis kebangkitan ekonomi di Kota Malang, utamanya dalam ekonomi kreatif.

Filosofi dibangunnya gedung MCC merupakan simbolis dari tiga karakteristik lokalitas Malang, yaitu budaya perilaku, sejarah, dan kesenian. Dilansir dari malangtimes, budaya perilaku di Malang adalah cangkrukan, budaya sejarah bangunannya adalah arsitektur kayu dan batu, seperti bangunan Pendopo Agung Kabupaten Malang dengan unsur arsitektur kayu dan bangunan candi dengan unsur arsitektur batu, lalu salah satu kesenian khas dari Malang adalah topeng malangan. Ketiga budaya lokal ini yang digabung menjadi satu menjadi sebuah gedung MCC Kota Malang.

Gedung MCC – Sumber foto: RRI.co.id

Salah satu bentuk bangunan yang ditonjolkan di gedung MCC adalah bagian depan yang tampak seperti gapura. Bentuk gapura tersebut terinspirasi dari bangunan gapura Candi Badut, yang di Candi Badut aslinya terdapat bentuk  pahatan Kalamakara di ambang pintunya.

Pahatan Kalamakara di Candi Badut tersebut berupa kepala dan wajah raksasa yang dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat. Uniknya di Candi Badut, bentuk Kalamakara tidak memiliki rahang bawah seperti di candi-candi Jawa Timur pada umumnya, melainkan mirip dengan Kalamakara yang terdapat pada candi-candi di Jawa Tengah.

Kalamakara di ambang pintu masuk Candi Badut – Sumber foto: myridemyadventure

Jadi Simbol Pemersatu Nilai-nilai Luhur

Letak Candi Badut berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sedangkan gedung MCC berada di Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Walaupun keduanya berada di lokasi yang berbeda, tetapi keduanya merupakan simbolis pemersatu atas nilai-nilai yang dikandungnya.

Dalam artian, Candi Badut sebagai simbol dan saksi bisu jayanya Kerajaan Kanjuruhan dalam berbagai bidang termasuk sisi budaya, sedangkan MCC merupakan simbol dan harapan bangkitnya pelaku ekraf di Malang.

MCC merupakan wadah dimana para pelaku ekraf saling bertemu, berkolaborasi, dan menciptakan sinergi yang kuat untuk mendorong kemajuan ekraf di Malang Raya. Dalam konteks ini MCC telah berhasil dan terus berupaya memposisikan diri sebagai pusat pertumbuhan ekraf di Malang Raya dengan banyaknya penerima manfaat di tiap bulannya.

Seperti yang dilaporkan dalam town hall meeting setiap bulannya, akumulasi data terbaru sejak awal MCC difungsikan hingga per-28 Mei 2024, terdapat total lebih dari 365.014 penerima manfaat dari MCC. Hal ini menunjukkan komitmen MCC untuk terus menjadi rumah bagi para pelaku ekraf di Malang Raya dengan berbagai fasilitas dan layanan yang ditawarkannya.

Baca juga:

Hal ini tak lepas juga dari dukungan berbagai pihak, mulai dari para kolaborator seperti UMKM, pelaku usaha, komunitas, startup, instansi pendidikan, pemerintah, seluruh seluruh masyarakat yang telah bekerja sama dan pernah menggunakan MCC dalam kegiatan-kegiatannya.

Dukungan-dukungan tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan MCC dapat terus berkembang dan ikut mendorong Malang menjadi kota kreatif terdepan di Indonesia dengan berbagai subsektornya.

MCC sebagai representasi Candi Badut yang pada masa itu juga menjadi simbol kejayaan masa Kerajaan Kanjuruhan, tak hanya sekadar menjadi sebuah gedung saja, melainkan sebuah komitmen untuk terus berkarya dan memajukan ekonomi kreatif di Malang. Untuk itu mari kita semua bersama-sama ikut membangun masa depan yang lebih kreatif dan sejahtera bersama MCC dan ekosistem kreatifnya.

Show More

Related Articles