Acara Kreatif

NgeDILo x MQA: Cara Software Quality Assurance Melakukan Testing Aplikasi

Indiekraf.com – Software Quality Assurance saat ini telah menjadi salah satu profesi yang sedang dibutuhkan di era perkembangan digital seperti sekarang.

Telah banyak produk aplikasi digital yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini menjadikan profesi SQA semakin terbuka lebar.

Untuk mempelajari lebih dalam apa itu Software Quality Assurance, DILo Malang berkolaborasi dengan komunitas Malang Quality Assurance (MQA) menggelar event NgeDILo x MQA pada hari Senin (29/06) kemarin secara online.

Komunitas MQA adalah komunitas yang mepunyai visi menjadi wadah dan perantara dalam proses perkembangan Software Quality Assurance di Kota Malang.

Event ini mendatangkan 2 pemateri profesional yakni Harditya Rahmat Ramadhan, Software Engineer OY! Indonesia) yang membahas mengenai “Continuous Integration Implementation in Flutter” dan Wira Putrawan Pakpahan, QA Engineer Tunaiku yang akan membahas seputar “QA Manual transformation to become QA Engineer”.

Salah satu tugas seorang Software Quality Assurance adalah menjamin sebuah aplikasi digital bisa berjalan tanpa ada masalah (bugs free). Meski begitu, Wira menyatakan bahwa tidak ada aplikasi yang tidak memiliki masalah (bugs).

“Tidak ada aplikasi yang 100% tidak memiliki masalah. Oleh karena itu, tugas seorang QA adalah untuk meminimalisir adanya bugs yang ada pada aplikasi tersebut.”

Untuk mengetahui apakah aplikasi tersebut terdapat bugs atau tidak, kita bisa melakukan test QA secara manual atau sistematis. Namun terdapat kelemahan melakukan test secara manual.

Karena dilakukan oleh manusia, maka akan ada potensi terjadinya human error pada saat melakukan test. Namun, ketika kita melakukan test secara sistematis, maka faktor human error bisa dihilangkan karena dilakukan oleh robot.

Dibutuhkan software untuk bisa mengembangkan sebuah aplikasi digital, salah satunya adalah Flutter.

Flutter adalah Mobile App SDK (Software Development Kit) untuk membuat aplikasi Android dan iOS dari satu codebase dengan performa tinggi. Dengan begitu, kita hanya perlu untuk mempelajari Flutter untuk bisa membuat aplikasi di sistem Android atau iOS.

Dengan kemudahan tersebut, Harditya menyatakan saat ini OY! Indonesia telah 100% beralih menggunakan Flutter untuk mengembangkan produknya.

Karena membahas mengenai Continuous Integration Implementation in Flutter, Harditya memberikan informasi stack mereka gunakan meliputi Flutter, circleci, Firebase, dan Fastlane.

Continuous Integration (CI) sangat membantu software engineer. Ketika mereka akan merubah suatu code mesin, maka CI akan melakukan tes apakah code tersebut aman atau tidak.

Terdapat 2 CI workflow yang diterapkan oleh OY! Indonesia yakni “test-analyzer” untuk run unit test dan “build-and-deploy” untuk build and deploy to Firebase App Distribution.

Penulis: Achmad Faridul Himam

Baca juga:

Tag
Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Back to top button
Close
Close