Kabar KreatifKota KreatifKulinerPelaku KreatifTak Berkategori

Profil Kota/Kabupaten Kreatif – Kabupaten Kulon Progo

Ditulis oleh Ainurrosyida

INDIEKRAF – Halo para pembaca setia Indiekraf, kembali lagi dengan artikel Kota Kreatif. Kali ini kita akan membahas tentang Kabupaten Kulo Progo. Kulon Progo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Kulon Progo memiliki luas wilayah 58.627,512 ha (586,28 km2), terdiri dari 12 kecamatan, 87 desa dan 1 kelurahan, 918 Pedukuhan, 1.885 Rukun Warga,4.469 Rukun Tetangga. Kabupaten Kulon Progo berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul di timur, Samudra Hindia di selatan, Kabupaten Purworejo di barat, dan Kabupaten Magelang di utara. Sedangkan di timur dibatasi Kali Progo. Kabupaten Kulon Progo terdiri atas 12 kecamatan, yang dibagi lagi atas 88 desa dan kelurahan, serta 930 Pedukuhan.

Jika anda pernah mendengar Bela Beli Kulon Progo; Bela Kulon Progo, Beli Kulon Progo. Itu bukanlah sekedar slogan, tetapi semangat dan landasan ideologis untuk mengembangan ekonomi di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu potensi andalan Kulon Progo adalah gula semut, atau lebih terkenal dengan nama coconut sugar. Produksi yang memadai dengan jumlah mencapai 1.400 ton per tahun. Dengan potensi tersebut maka subsektor kuliner sangat layak menjadi subsektor unggulan.Subsektor ini sudah berjalan selama 35 Tahun. Pertimbangan terbesar pemilihan ada pada besarnya potensi yang dilihat dari omset, serapan tenaga kerja, dan jaringan pemasaran yang kuat, serta salah satu produsen utama coconut sugar di dunia. Omset yang dihasilkan setia tahunnya yaitu sebesar 58 milyar. Selain itu coconut sugar sudah memiliki produk indikasi geografis serta memiliki daya ungkit yang luar biasa dengan sinergi dengan rencana industri pariwisata kopi menorah di Kabupaten Kulon Progo. Setiap tahunnya ada 5 program yang dijalankan di Kulon Progo. Dari keberhasilan subsektor tersebut Kulon Progo mendapatkan 1 penghargaan setiap tahunnya

Untuk SDM, tekonologi dan inftastruktur, industri, serta akses dan perluasan pasar sudah sangat memadai yaitu mencapai 50%. Sedangkan untuk kelembagaannya sudah mencapai 46% yang tentunya sudah memadai. Dan untuk bahan baku di Kulon Progo sendiri tida mengalami kesusahan yaitu mencapai 75% yang mana sangat memadai bagi para subsektor dalam mengolah. Salah satu produsen yang berhasil mengolah coconut sugar ialah Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Gula Kelapa Kulonprogo Jogja. Mereka memilki 15.500 tenaga kerja yang siap mengolah gula kelapa. Setiap masyarakat Kulon Progo mempunyai tugasnya sendiri yang menjadikan Kulon Progo termasuk Kota Kreatif di Indonesia.

Melalui komunitas yang ada di Kulon Progo, mereka melahirkan diversifikasi produk kuliner yang sangat cocok untuk oleh oleh wisatawan. Kemudian adanya dukungan penguatan potensi kuliner dengan bimbingan teknis dan dukungan pemasaran melalui partisipasi bazar pameran kuliner yang kontinyu. Sedangkan untuk para akademisi perlu dilakukan survey eksploratori di kawasan keramaian Kabupaten Kulon Progo. Dan untuk para pebisnis kuliner baru sebaiknya mendapatkan panduan dari pemerintah, bisa dari pelatihan bisnis, informasi perizinan, sampai pada pendampingan hukum dalam proses pendirian usaha.

Tentunya saja dengan penjualan produk yang banyak tersebut menambahkan keuntungan bagi Kulon Progo, yaitu :

  • Perkebunan kopi yang semakin luas
  • Berjejaring dengan pemasok diluar daerah Kulon Progo
  • Keberadaan destinasi wisata tersebut harus bersinergi dengan produk coconut sugar yang sudah memiliki Produk Indikasi Geografis
  • Membuka lapangan pekerjaan bagi petani kopi dan gula kelapa

Bukan hanya membawa keuntungan di masa kini namun seiring bejalannya waktu penjualan produk di Kulon Progo akan terus mencipatakan keuntungan yang  baru seperti yang sudah diharapkan, yaitu :

  • Munculnya desa wisata kopi sebagai bagian dari meningkatnya produksi
  • Mampu mendapatkan pengakuan secara Nasional Produk Indikasi Geografis
  • Adanya sertifikasi untuk menunjang meningkatnya kualitas produk dan persepsi konsumen terhadap produk
  • Mendorong daya kreasi dan produksi pada subsektor kuliner.

Agar keuntungan-keuntungan tersebut terwujud tentunya diperlukan inovasi-inovasi baru agar penjualan terus berkembang. Sekian dulu artikel kota kreatif kali ini terima kasih sudah membaca.

Source : https://www.kotakreatif.id/

Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Komentar

  1. Ide yang sangat bagus untuk saling sharing pengetahuan.
    Saya tunggu kirimannya. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close