Digital KreatifIndustri Kreatif

The Special ID, Platform Industri Kreatif Bagi Para Penyandang Disabilitas

Indiekraf.com – Terapi bagi para penyandang dsabilitas memang bisa dilakukan dari beragam media. Salah satunya melalui seni.

Selain sebagai media hiburan, seni juga bisa membuat para penyandang disabilitas bisa bebas dalam mengekspresikan bakat dan kemampuan mereka. Seni dinilai juga memberikan dampak positif kepada psikologis mereka, khususnya dalam menjaga keseimbangan mental dan emosional.

Seni yang menjadi bagian dari terapi, salah satunya diaplikasikan oleh Alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan Firli Herdiana. Sosok yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Art Therapy Center Widyatama ini aktif dalam memberikan terapi kepada anak berkebutuhan khusus, baik disabilitas fisik, sensorik, mental dan intelektual.

The Special ID merupakan platform yang dibuat untuk menghubungkan kreator difabel dengan peminat karya yang unik dan bernilai (connect), berkolaborasi bersama ahli untuk meningkatkan kualitas diri (collaborate) dan menyajikan karya berupa produk yang siap dinikmati pembeli (commerce),” jelasnya, seperti dikutip dari Kabar Pasundan.

Baca Juga:

Firli serta para pengajar lainnya di Art Therapy Center Widyatama yang lain, mengasah kemampuan para siswa – siswi nya dengan metode sensasi atau stimulasi sensori, berbasis kreatif yang banyak memadu padankan aspek seni, seperti audio, visual dan kinetis.

“Saya sendiri mengajar desain grafis. Terapinya menekankan bagaimana anak-anak meluapkan imajinasinya melalui desain grafis,” katanya

Desain dan portfolio yang dibuat oleh siswa-siswi Art Therapy Center Widyatama akan di-publish di website The Special ID (thespecial.id) dan bisa dibeli oleh perorangan atau brand.

“Klien kami di antaranya Starbucks, Rexona, Otsuka, McKinsey & Company, USAID, dan Indofood. Desain diaplikasikan di produk mereka, misalnya tumbler, kalender, dan lain-lain,” tambahnya.

Tak hanya kelas desain grafis, para penyandang disabilitas juga belajar musik, tari, seni kriya, dan lain-lain. 70 persen pengajarnya bahkan lulusan FISS Unpas, khususnya prodi DKV, Seni Musik, dan Sastra Inggris.

“Mereka belajar selama 3 tahun, jadi kurikulumnya disetarakan dengan D3. Kami ingin memberikan kesempatan agar mereka bisa hidup mandiri, produkti, dan mampu menghidupi diri sendiri melalui sektor ekonomi kreatif,” tandasnya.

Related Articles