Aplikasi Digital dan GameIndustri KreatifInsightOpini KreatifPelaku KreatifTips Kreatif

9 Tahun Berkarier Sebagai UX Researcher, Ini Pesan Naning Utoyo Kepada Fresh Graduate Jika Ingin Berkarir di Luar Negeri

Indiekraf.com – UX Researcher adalah salah satu profesi yang banyak dicari oleh industri kreatif digital di dunia. Menurut artikel ‘The Growing Demand for UX Researchers’ yang ditulis oleh Andrew Smith (TDA Creative) didapatkan data bahwa pada tahun 2017, 86% petinggi perusahaan setuju jika UX Researcher dapat meningkatkan kualitas produk dan layanan perusahaan. Sehingga, tak heran jika saat ini banyak orang yang ingin mendalami bidang tersebut, termasuk Naning Utoyo.

Memasuki era serba digital seperti sekarang membuat pertumbuhan profesi User Experience (UX) semakin pesat. Topik yang membahas mengenai User Experience (UX) juga sudah semakin mudah untuk didapatkan dan dipelajari. Selain melalui pendidikan formal di kuliah, kamu bisa mempelajari topik tersebut dari berbagai sumber seperti kursus online/offline, seminar, buku, YouTube, atau bergabung dengan komunitas.

Baca juga Intip Tips Penting Cari Modal Bisnis Kala Pandemi ala Dickie Widjaja

Saat ini telah banyak pilihan kursus atau program pelatihan di dalam negeri maupun luar negeri yang fokus membahas mengenai User Experience (UX). Untuk dalam negeri, kamu bisa mengunjungi website binaracademy.com, uxindo.com, atau somia.academy. Sedangkan untuk luar negeri, kamu bisa mengunjungi website skillsunion.com, generalassemb.ly, hyperisland.com, dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya sangat membantu bagi kita, khususnya bagi fresh graduate yang ingin mengembangkan kemampuannya di bidang UX.

Industri kreatif digital saat ini sangat membutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan di bidang UX. Menurut artikel ‘2019 SALARY GUIDE Digital, Creative & Marketing’ yang diterbitkan oleh Onward Search menyatakan bahwa profesi seorang User Experience (UX) termasuk dalam “19 Most In-Demand Digital Creative Talent for 2019” atau profesi yang paling dibutuhkan di dunia. Saat artikel ini ditulis, telah terdapat sekitar 94 lowongan pekerjaan di Indonesia untuk profesi tersebut. Data ini didapatkan dari berbagai platform digital meliputi LinkedIn, Tech in Asia, dan Indeed.

Kesempatan bekerja sebagai seorang praktisi UX juga sangat terbuka lebar di luar negeri. Dilansir dari uxdesigninstitute.com, telah terjadi peningkatan permintaan praktisi UX secara global, terutama di wilayah Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Namun, ada hal yang perlu kamu perhatikan sebelum berkarir di luar negeri.

Baca juga 5 Tips Melakukan Networking di Industri Kreatif

Naning Utoyo, seorang UX Researcher dari Indonesia yang sudah berkarir selama kurang lebih 9 tahun di luar negeri mengatakan bahwa salah satu masalah yang sering dihadapi adalah masalah bahasa. “Kamu harus bisa writing, listening, speaking, and presenting in English. Dan banyak orang yang belum menyadari betapa pentingnya itu. Baru setelah mereka bekerja di perusahaan yang memiliki karyawan dari berbagai macam negara, mereka baru paham bahwa ternyata bahasa inggris itu penting,” jelas Naning saat diwawancara oleh Indiekraf.

“Belajar bahasa Inggris tuh ga harus ikut kelas khusus, bisa as simple as nonton series tapi menggunakan subtitle bahasa Inggris. Atau bisa dari game, aku banyak belajar dari RPG. Bisa juga dari membaca novel bahasa Inggris,” tambah Naning. Jadi jika kamu ingin berkarir di luar negeri, jangan lupa untuk menguasai bahasa Inggris terlebih dahulu agar tidak mengganggu perjalanan karir kamu nantinya.

Selain bahasa, terdapat berbagai macam soft skill lainnya yang sebaiknya kamu pelajari sedini mungkin. Berdasarkan riset ‘2019 Product Design Hiring Report’ yang dikeluarkan oleh invisionapp.com mengatakan bahwa terdapat 7 soft skill yang dibutuhkan untuk membantu karir kamu di masa depan, antara lain adalah Collaboration/Teamwork, Communication, Empathy, Emotional Intelligence, Presentation/Public Speaking Skills, Leadership, dan Business Operations.

Perjalanan Karir Naning Utoyo di Luar Negeri

Perjalanan karir Naning sebagai praktisi UX Researcher di Singapore dimulai pada tahun 2012. Saat itu, Ia berhasil bekerja di perusahaan agency McCann Worldgroup sebagai User Experience Researcher selama 3.5 tahun.

Ingin melebarkan kemampuannya sebagai UX Researcher, Ia mencoba untuk bekerja di TadeGecko, sebuah startup yang bergerak di bidang SaaS khususnya logistik. Di startup ini, Naning mendapatkan pengalaman sebagai User Experience Strategist selama 2.5 tahun. Ia menyampaikan bahwa pengalamannya bekerja di startup ini merupakan hal yang cukup menarik.

Jika dibandingkan dengan perusahaan atau instansi pemerintah seperti BUMN, startup cenderung lebih tidak stabil. Naning kerap mengerjakan project atau membangun produk dalam rentang waktu yang singkat dan sumber daya yang sangat terbatas.

Baca juga Simak! Tips Marketing Ini Mampu Membantu Bisnis Kamu Berkembang

Selain itu, Ia mengibaratkan jika kerja di dunia startup ibarat dengan ‘kerja bakti’, hampir semua harus dikerjakan sendiri. Namun, sisi positifnya adalah banyak hal baru yang bisa dipelajari dan didapatkan. Dirinya benar – benar merasakan bagaimana bekerja di dunia startup yang serba tidak pasti. Bahkan Ia kerap merasakan cemas mengenai gaji bulanannya apakah cair atau tidak.

Merasa puas mengenyam pengalaman di dunia startup, pada tahun 2017, Ia mencoba untuk mencari pengalaman di sebuah perusahaan energi Singapore yaitu SP Group. Berbeda dengan dunia startup yang serba tidak pasti dan cepat berganti, di SP Group, Naning memiliki lebih banyak waktu dan sumber daya untuk membangun sebuah produk. Ia juga bisa mempelajari apapun yang dia inginkan.

Akan tetapi, Naning mau tidak mau harus berurusan dengan birokrasi yang menurutnya cukup ketat. Mendapatkan pekerjaan sebagai Senior Experience Researcher selama hampir 4 tahun, Ia menceritakan bahwa agar bisa menggunakan aplikasi baru untuk membantu pekerjaannya, Ia membutuhkan waktu sekitar 6 bulan hingga aplikasi tersebut bisa digunakan di SP Group.

Karena cukup ‘lelah’ berhadapan dengan birokrasi yang ketat, akhirnya pada bulan Maret 2021, Naning memutuskan untuk kembali ke dunia startup dan bergabung bersama ShopBack sebagai Research Lead.

Penulis: Achmad Faridul Himam

Referensi

[1] The Most In-Demand Hard and Soft Skills of 2020
[2] 2019 SALARY GUIDE Digital, Creative & Marketing
[3] 2019 Product Design Hiring Report
[4] The Growing Demand for UX Researchers
[5] Want a career in UX? Here’s why it’s a smart move

Related Articles