Industri KreatifMusikOpini Kreatif

Menguak Sejarah Emo Dalam Genre Musik Rock, ‘Alay atau Badai?’

Indiekraf.com –  Emo kata ini pasti akrab bagi kalian. Khususnya yang mengalami masa muda di era 2000an. Dahulu banyak kalangan di dalam skena musik rock khususnya yang beranggapan bahwa emo adalah musik yang alay, karena style fesyen dan banyak hal. Namun dibalik itu, Emo memang pernah atau akankah selalu memberikan warna dalam industri musik dunia seperti badai?

Seperti bagaimana baru -baru ini vokalis  salah satu band emo Tanah Air Stereowall , Cynantia Pratita mencoba mengangkatnya ke level umum dalam ajang Indonesia Idol.

Definisi Emo

Mari kita mencoba membuka satu persatu emo mulai dari definisinya terlebih dahulu. Seperti dikutip dari masterclass.com,  emo adalah sub genre dari berbagai musik underground, seperti punk rock, indie rock, garage rock, serta Seattle Sound yang dibalut dalam lirik dan juga ekpresi emosi yang sangat ekspresif dari para anggota band nya.

Sejarah Emo 

Berbicara sejarah emo, saya melihatnya terbagi menjadi tiga gelombang. Hal ini berdasar perbedaan dan karakter musik, serta tahun kemunculannya di setiap gelombang.

Gelombang 1 (1980-90an)

Jika kamu berpendapat bahwa emo adalah musik alay zaman sekarang. Saya akan berpendapat bahwa hal tersebut salah. Karena berdasar dari berbagai refrensi gelombang pertama emo yang masih sangat minoritas sudah muncul di era 80an.

Kala itu, emo menjadi sub genre dari post hardcore dan punk. Di mana sebagain musisi khususnya di Washington DC ketika itu sudah jengah dengan karakter Hardcore,Post Hardcore dan Punkrock. Adalah Guy Piccioto, vokalis dan gitaris band rites of spring (yang selanjutnya membentuk Fugazi bersama vokalis Hardcore Ian MacKaye ex Minor Threat).

Mereka mencoba menjauh dari hingar bingar hardcore dan punk yang begitu keras, karena selama di skena tersebut, keduanya merasa kehilangan hubungan, keluarga dan banyak hal lain. Sehingga musik yang lebih emosional dan menyentuh hati jadi pelarian mereka selanjutnya bersama Fugazi.

Sempat menjadi kontroversi, namun gaya bermusik Fugazi  yang lebih ringan namun penuh ekspresi, akhirnya cukup diterima, dan banyak dinilai sebagai gelombang pertama Emo, meskipun belum tercetus genre emo. Fugazi hanya dikenal sebagai band rock.

Baca Juga:
Gelombang II (pertengahan 90an)

Setelah era Fugazi, banyak band – band lain akhirnya terinspirasi dari bagaimana gaya Ian MacKaye dkk bermain musik, serta ditambah dengan derasnya gelombang Seattle Sound (grunge) dengan Nirvana, Silverchair, dan Pearl Jam yang juga dibawakan penuh emosi dengan style yang berbeda, membuat gelombang kedua emo ini semakin kaya warna musik nya.

Gelombang kedua Emo muncul dari kawasan Pantai Barat Amerika Serikat. Dengan band-band seperti Jawbreaker, Weezer, dan Jimmy Eat World. Emo di masa ini hadir dengan musik yang lebih kental aroma garage rock, grunge dan pop rock, dengan lirik anak muda yang penuh hal sentimentil dan menyedihkan tentang kehidupan sehari – hari mereka.

Dari era ini lah, sebutan Emo sebagai salah satu genre mulai menggaung. Di mana warna – warna musik yang menghiasinya juga semakin beragam. Hingga menelurkan gelombang ketiga kedatangannya, dan menjadi gelombang paling masiv di seluruh dunia.

Gelombang III (akhir 90-2000an) 

Pada akhir 90an, band – band emo sudah begitu banyak muncul di Amerika Serikat. Hanya saja belum mendunia dan tidak ada yang diambil oleh label mayor. Pada era awal gelombang III ini melahirkan beberapa band, yang akhirnya menaruh standar musik emo hingga saat ini. Seperti misalnya Student Rick, The Grade, Save The Day, Dashboard Confessional, The Ataris, The Startingline dan masih banyak lagi yang lainnya. Musik-musik mereka inilah yang akhirnya dinilai juga menginspirasi band -band emo yang mendunia di era 2000an.

Ya dari pasukan emo di awal gelombang ke-III inilah yang akhirnya membuat band -band emo seperti My Chemical Romance, Fall Out Boy, 30 Second to Mars dan banyak band lain bisa mendunia, setelah musik mereka dilirik label mayor. Label besar sendiri tidak bisa begitu saja melewatkan emo, karena pada masa itu penggemarnya sudah begitu banyak, bukan saja di Amerika Serikat namun juga Eropa. Sehingga bagaimanapun ini adalah pasar.

Gelombang ketiga ini lah nama emo benar – benar dikenal. Bukan hanya sebagai sebuah genre musik, namun juga sebagai gaya hidup. Bahkan ketika itu, beberapa media di Amerika menganggap keberadaan emo sama dengan gelombang Flower Generation di era 60-70an. Karena memang saat itu penampilan My Chemical Romance dkk nya dengan gaya gothic, serta rambut bergaya mullet (atau kita kenal dengan poni lempar, bahkan sekarang jamet) menjadi ciri khas banyak anak muda. Bukan saja di Amerika sebagai tanah kelahirannya, namun sudah sedunia.

Selain penampilan, emo pada gelombang ketiga ini juga memiliki karakter yang berbeda. Emo tampil lebih keras dengan tambahan musik metal, dan mellodic punk. Sehingga mulai muncul sub genre dari emo sendiri, seperti Screamo yang penuh teriakan, juga metalcore, juga emo mellodic. Dimana pengaruh ini justru banyak didapat dari gelombang pertama emo, namun dengan sound yang lebih modern dan kaya warna.

Pada periode inilah, gelombang kontroversi emo pun mulai muncul. Musikus dan anak emo lebih sering disebut sebagai ‘alay’ dan sok metal, oleh para penggemar musik cadas. Hal tersebut berdasar musik emo yang berkarakter keras, namun punya gaya yang lebih emosional dan lembut, tidak gahar seperti bagaimana pemusik rock atau metal.

Era Senjakala Emo

Setelah hampir satu dekade menguasai genre anak muda, emo mulai meredup di penghujung 2010. Hal ini ditandai dengan hiatusnya My Chemical Romance, yang dinilai sebagai pelopor emo modern di era 2000an. Apalagi ketika itu, gelombang dance musik dan musik korea (K-Pop) mulai bangkit dan banyak menduduki tangga lagu di berbagai belahan dunia. Emo pun kembali ke habitatnya sebagai music sub kultur underground dan terus bertahan hingga saat ini.

Namun titik terang emo sebenarnya sempat muncul pada 2019. Ketika My Chemical Romance memutuskan selesai dari tidur panjang hampir 1 dekade nya. Hal tersebut ditandai dengan konser reunion mereka pada akhir 2019, serta bakal dilanjut dengan konser tour dan launching single baru. Namun pandemi membuat rencana tersebut tertunda. Sehingga patut dinanti apakah emo akan mampu kembali mengguncang dunia seperti di gelombang III nya dahulu.

Emo di Indonesia 

Gelombang emo di Indonesia sebenarnya baru benar – benar dimulai pada gelombang ke III (akhir 90an). Di mana kala itu memang internet juga mulai lebih mudah dinikmati di Nusantara. Membuat banyak musisi dan anak muda mulai banyak mendapat refrensi musik dari luar, termasuk juga emo.

Sempat juga ada beberapa band beraroma emo yang masuk ke mayor label di Indonesia. Seperti misalnya Kunci (2002) yang banyak mendapat pengaruh dari band seperti Jimmy Eat World. Kemudian ada juga Killing Me Inside (2005) dan juga Last Child (2006) yang mendapatkan pengaruh dari band emo yang lebih modern seperti My Chemical Romance, Fall Out Boy, Mayday Parade dan Bring Me The Horizon.

Sedangkan Alone At Last disebut  -sebut sebagai “Bapak Emo Indonesia” karena ketika band-band lain di awal 2000an masih malu untuk muncul dengan genre tersebut, band yang dimotori oleh Yas Budaya tersebut sudah lantang membawakan emo.  Hanya saja Alone At Last tidak pernah muncul sampai di mayor label.

Sama seperti di Amerika, band-band emo di Indonesia kini juga masih eksis, namun lebih banyak bergerak di bawah tanah. Sebut saja For Revenge, Stereowall, Billfold, Stand Here Alone, dan beberapa lainnya. Hingga akhirnya Tita (Cyntia Pratitha) secara mengejutkan muncul pada audisi Indonesian Idol 2020.

Meskipun perjalanan Tita tidak sampai panggung spektakuler, namun kemunculannya seperti menjadi penanda, bahwa emo masih ada tidak pernah mati di Indonesia. Sehingga kini banyak warganet kembali mulai mencari-cari apa itu emo.

Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Back to top button