Acara KreatifFesyenTak Berkategori

SMA Negeri 2 Surabaya Gelar Pameran Desain Motif Batik Digital melalui Media Sosial

Indiekraf.com – Di masa pandemi ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah memberikan bantuan kuota gratis kepada peserta didik maupun pengajar mulai dari Pendidikan Dasar sampai Pendidikan Tinggi, termasuk yang didapatkan oleh SMA Negeri 2 Surabaya.

Melalui bantuan kuota tersebut pemerintah juga membatasi beberapa platform jaringan yang tidak bisa diakses, beberapa diantaranya media sosial Instagram dan TikTok. Harapannya bantuan kuota tersebut bisa maksimal digunakan dalam pembelajaran dan tidak digunakan untuk mengakses platform yang berdampak negatif dalam proses belajar seperti game online maupun bermedia sosial.

Harus disadari bahwa kecenderungan peserta didik hari ini dengan teknologi khususnya di kalangan ekonomi menengah ke atas sulit untuk dikontrol dari aspek negatifnya. Fakta bahwa dunia game online dan media sosial menjadi kecenderungan peserta didik masa kini.

Permasalahan dalam pembelajaran daring adalah tingkat keefektifan yang rendah dengan pengaruh akses yang tidak merata di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Dra. Ligawati, M.Pd. selaku kepala sekolah SMA Negeri 2 Surabaya mengungkapkan di masa pandemi ini para guru diharapkan untuk memberikan materi yang maksimal dengan berbagai media dan durasi waktu yang tentunya berkurang dari durasi pembelajaran konvensional.

Jika setiap guru hanya memberikan tugas juga faktanya menjadi polemik beban psikologis yang buruk pada peserta didik dan orang tua. Sejalan dengan pernyataan Nadiem Makarim Menteri Pendidikan melaui kanal youtube Kemdikbud RI tentang Pengumuman Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, bahwa banyak sekali kendala yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran daring dan ini juga menjadi tantangan bagi guru. Nadiem juga mengungkapkan salah satu dampak dari pembelajaran  daring adalah hilangnya minat belajar peserta didik atau dengan istilah loss learning.

Pameran di Media Sosial Sebagai Alternatif Pembelajaran di Masa Pandemi

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr.Ir. Wahid Wahyudi, M.T. dalam kesempatan kunjungan ke SMA Negeri 2 Surabaya mengungkapkan bahwa pembelajaran daring tentunya menjadikan momen para guru untuk melakukan eksplorasi blended learning di masa normal yang akan datang. Hal menarik saat ini banyak guru dari yang lahir dari generasi analog (digital immigrant) di era digital berusaha untuk menjadi content creator dalam pembelajaran.

Potensi di era digital adalah sumber belajar yang melimpah dan jika dengan akses yang mudah maka harapan tersebut dapat maksimal untuk mendorong literasi media digital dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran masa kini berpotensi juga untuk masuk dalam dunia peserta hari ini, salah satunya adalah memaksimalkan media sosial dalam pembelajaran.

SMA Negeri 2 Surabaya menjadi salah satu sekolah favorit di Surabaya dengan peserta didik yang mayoritas memiliki perangkat digital dalam pembelajaran daring seperti laptop maupun smartphone. Melalui mata pelajaran Seni Budaya kelas XI, saat ini menyelenggarakan pameran digital melalui platform media sosial Instagram dan TikTok. Konten dalam pameran yang ditampilkan adalah desain motif batik digital dengan konsep yang inovatif dan kreatif yang dapat dilihat melalui hastag #desainmotifbatiksmadabaya2021.

Pameran SMA Negeri 2 Surabaya di Media Sosial Instagram dan TikTok dapat di akses melalui hastag #desainmotifbatiksmadabaya2021
Pameran SMA Negeri 2 Surabaya di Media Sosial Instagram dan TikTok dapat di akses melalui hastag #desainmotifbatiksmadabaya2021

Sebagai guru pengampu Seni Budaya, Condro Wiratmoko sangat bangga dengan hasil karya desain motif batik digital yang dibuat oleh muridnya dengan melalui sumber inspirasi yang beragam. Beberapa contoh sumber inspirasi yang diwujudkan seperti desain motif batik dengan tema “kiamat”, “pandemi”, “antariksa”, “media sosial”, “makanan” dan sumber inspirasi kreatif lainnya.

Proses Pelaksanaan Pameran Batik Digital

Pameran digital tersebut merupakan buah dari pembelajaran berbasis project based learning. Satu kelas besar yang berisi rata-rata 36 siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan 3-4 siswa di dalamnya. Dari kelompok tersebut setiap individu membuat satu bentuk desain motif batik dari sumber inspirasi yang disepakati oleh kelompoknya. Desain motif batik digital merupakan teknik mendesain motif batik dengan melibatkan teknologi digital melalui perangkat software design yang diinstal di laptop, smartphone maupun yang diakses secara online dalam prosesnya.

Proses awal dalam project ini dengan melakukan riset dari sumber inspirasi yang ingin diwujudkan menjadi desain motif batik yang kemudian diwujudkan sketsa manual menggunakan pensil diatas kertas gambar.

Selanjutnya sketsa manual tersebut discan atau difoto untuk diproses menggunakan software desain dan di gambar ulang secara digital melalui proses tracing, coloring dan membuat komposisi. Hasil akhir proses ini, siswa membuat mock up desain motif batik tersebut pada bahan mock up baju yang berwarna putih atau seragam sekolah.

Proses Pembuatan Desain Motif Batik Digital
Proses Pembuatan Desain Motif Batik Digital

Azira salah satu siswi dari kelas XI IPA 2, mengungkapkan bahwa hal menarik dari proses digital adalah proses mock up atau  bentuk manipulasi desain motif batik digital pada baju dengan memaksimalkan seragam sekolah dan kamera dari smartphone yang dimiliki untuk fotografinya. Dari proses ini dia dituntut untuk menjadi seorang model baju untuk dijadikan bahan mock up atau manipulasi desain motif batik.

Azira, Jacky dan Anindya sangat bangga dengan hasil desain motif batik pandemi yang dibuatnya, dan dari proses desain motif batik yang dibuat seolah-olah seperti sudah diproduksi menjadi baju. Mereka juga mengungkapkan melalui proses digitalisasi desain motif batik ini ada kemudahan untuk membuat desain dengan cepat dan banyak variasinya.

Karya Desain Motif Batik Kelompok Azira, Jacky dan Anindya dengan konsep Pandemi
Karya Desain Motif Batik Kelompok Azira, Jacky dan Anindya dengan konsep Pandemi

Dari hasil karya desain motif batik yang sudah dibuat secara digital tersebut, Condro mengungkapkan bahwa rasanya sayang banget jika hanya dinilai oleh sendiri sendiri sebagai seorang guru. Oleh karena itu dia mulai berpikir bahwa karya ini harus dipamerkan secara digital melalui media sosial supaya mendapatkan apresiasi baik melalui like maupun komentar.

Condro ingin memaksimalkan media sosial sebagai media pameran tetapi dengan konsep yang berbeda, maka dari itu dia belajar dan berusaha memahami dunia media sosial anak didiknya. Dari hasil pengamatannya ternyata setiap media sosial Instagram kelas ditampilkan dalam manajemen konten yang menarik.

Karya Desain Motif Batik Kelompok Azira, Jacky dan Anindya dengan konsep Pandemi
Karya Desain Motif Batik Kelompok Azira, Jacky dan Anindya dengan konsep Pandemi

Oleh karena itu Condro memberi tugas pameran kelas dengan memanejemen konten Instagram setiap kelas yang disesuikan dengan jumlah kelompoknya. Hal lain dari pameran ini yang dipikirkan oleh Condro adalah menjadwalkan proses posting setiap kelas dan menentukan hashtag yang bersifat khusus maupun umum.

Hashtag yang berisfat khusus pameran di Instagram adalah #desainmotifbatiksmadabaya2021, sedangkan hashtag yang bersifat umum adalah #batik #motifbatik #desainmotifbatik #merdekabelajar. Pengaturan jadwal posting bertujuan untuk melihat tampilan manajemen konten setiap kelas melalui hashtag yang bersifat khusus secara utuh dan tidak acak.

Memanfaatkan Platform Digital Seperti Instagram dan TikTok

Selain di Instagram, pameran ini juga berlangsung melalui platform media sosial TikTok dengan tuntutan setiap individu membuat video proses hasil desain masing-masing individu. TikTok saat ini menjadi media sosial yang sangat populer di kalangan generasi milenial dengan jutaan pengguna di Indonesia.

Hal ini yang menjadi pertimbangan Condro bahwa harapannya karya siswa dapat dilihat dan di apresiasi banyak pengguna TikTok. Di dalam pameran ini siswa-siswi dituntut untuk bisa memaksimalkan smartphone untuk proses editing video.

Video tersebut berisi sequence dari konsep sumber inspirasi, proses pembuatan dan hasil akhir dari desain motif batik digitalnya. Sampai saat ini pameran di TikTok yang dapat dilihat melaui hashtag #desainmotifbatiksmadabaya2021 sudah dilihat lebih dari 266.000 kali, puluhan ribu disukai, dan ribuan komentar dari pengguna TikTok.

Beberapa Squence Video Karya Kelompok Aisyah, Sevira dan Allysa Dengan konsep Media Sosial
Beberapa Squence Video Karya Kelompok Aisyah, Sevira dan Allysa
Dengan konsep Media Sosial

Dari kegiatan pameran tersebut Condro berharap dapat mendorong kreativitas anak didiknya dalam seni dan budaya melalui dunia digital di masa pandemi ini. Selain itu juga semoga kegiatan ini bisa menjadi referensi para guru dengan berbagai bidang ilmu untuk mengeksplorasi dunia digital seperti halnya media sosial dalam pembelajaran daring. Semakin banyak konten pembelajaran di media sosial tentunya semakin banyak pula pengetahuan yang dapat dibagikan.

Beberapa Squence Video Karya Kelompok Aisyah, Sevira dan Allysa Dengan konsep Media Sosial
Beberapa Squence Video Karya Kelompok Aisyah, Sevira dan Allysa
Dengan konsep Media Sosial

Baca juga

Related Articles