Acara KreatifIndustri KreatifKuliner

Solutif, Warga Kayutangan Kota  Malang Hasilkan ‘Cuan’ Lewat  Kerupuk Telur Asin Buatannya

Indiekraf.com– Kreatif dan solutif, mungkin dua kata tersebut cocok disematkan kepada Yunita Susanti, seorang guru SD di kota Malang yang mampu ciptakan kreasi kerupuk varian baru yakni dari bahan dasar telor asin.

Yunita bercerita, awalnya ia bisa berinovasi menjadikan telor asin jadi keripuk dikarenakan ada permasalahan telur asin yang setiap harinya ia titipkan untuk dijual di pasar ataupun ke toko-toko mengalami kerusakan seperti kulit yang rusak atau pecah.

Karena kulitnya pecah, otomatis banyak pedagang di toko-toko yang ia titipi tidak mau menerima telur asin tersebut. Akhirnya banyak yang harus terbuang ataupun bahkan dikonsumsi sendiri atau diberikan kepada orang lain, padahal telur asin tersebut masih layak konsumsi, dari masalah itulah ia bersama keluarganya memikirkan untuk mencari solusinya.

“Usaha kerupuk telur asin awalnya dari usaha telur asin. Awalnya tidak tau mau diapain. Bahkan ada yang dibuang. Akhirnya kepikiran mencari solusi agar bisa menghasilkan uang,”kata Yunita pada indiekraf.com, Selasa (25/01/22).

Baca juga:

keripik telur asin dengan brand ‘inang’ buatan Yunita Susanti warga Kayutangan Kota Malang

Ide membuat keripuk dari telur asin tersebut, sejatinya didapat Yunita pada 2019 lalu. Banyak sekali usaha agar kerupuk buatanyanya terasa enak, kegagalan demi kegagalan sudah ia rasakan . Saat ini guru SD Permata Jingga ini bisa memproduksi kerupuk telur asin versi yang mentah dan sudah matang.

Saat ini, kerupuk telu asin dengan diberi nama ‘Inang’ ini kebanyakan dipesan secara offline dengan cara pre order.Sementara untuk pemasaran online melalui market place diakui Yunita belum tergarap secara baik.

Menurut Yunita, kerupuk telur asin buatannya dijual dengan harga Rp 12 ribu untuk kemasan 120 gram. Sedangkan untuk kerupuk mentah dijual Rp 90 ribu per kilogram.  Masih menurut Yunita, untuk kerupuk matang belum ia jual ke luar kota malang, hal itu dikarenakan Yunita masih khawatir hasilnya akan rusak.

“Untuk membuat kemasan kerupuk matang dijual ke luar kota, masih belum bisa karena khawatir remuk,” ungkap alumnus PGSD Universitas Negeri Malang ini.

Baca juga:

Saat ini, usaha sampingan yang ia geluti bersama suaminya sedang dalam proses mengurus P-IRT . Ia mengatakan, biasanya menjelang Ramadhan pesanan kerupuk telur asin cukup meningkat.

Saat ini, setiap hari ia mampu memproduksi 2-4 kilogram bahan untuk dijadikan kerupuk telur asin. Untu mencapai ketipisan kerupuk, ia memiliki alat pemotong sendiri yang sudah dimodifikasi oleh suaminya.

Related Articles