Acara KreatifDesain ProdukDigital KreatifFesyenIndustri KreatifKabar KreatifKriyaPelaku KreatifSeni PertunjukanSeni Rupa

JFW 2020 Tetap Digelar, Mengangkat Tema yang Berbeda Tahun Ini

Indiekraf.com – Meski sedang di tengah adanya pandemi COVID -19, Jakarta Fashion Week tetap akan digelar lho! Pagelaran ini rencananya akan digelar secara virtual dari tanggal 26-29 November 2020. Seperti sebelumnya, Dewi Fashion Knights (DFK) 2020 akan menjadi penutup dari rangkaian Jakarta Fashion Week tahun ini.

DFk sendiri akan ditayangkan di JFW TV di tanggal 29 November 2020 mendatang. DFK ke-13 ini akan mengangkat tema GAIA atau Mother Earth. Kembali perjalanan di tahun 2020 yang penuh akan refleksi serta perjalanan dalam mengenal diri bagi sebagian orang dirasa cocok dengan tema ini. Dikutip dari Fimel.com, Margaretha Untoro sebagai Editor in Chief Dewi Magazine mengatakan bahwa pandemi membuat banyak pihak mempertanyakan nilai-nilai, termasuk dalam industri mode. 

“Gaia atau Mother Earth, kembalike Ibu, ke akar, dan nurani. Kami melihat dan menengok kembali perjalanan di 2020 yang kebanyakan berisi refleksi dan perjalanan ke dalam diri bagi sebagian besar orang. Pandemi dan gejolak lainnya yang terjadi secara global tahun ini membuat banyak pihak mempertanyakan nilai-nilai, tak terkecuali di industri mode. Tentunya hal ini juga berkaitan erat dengan praktik keberlanjutan dan upaya-upaya untuk menuju roda industri yang perputarannya tertutup (closed loop),” jelasnya.

Baca Juga 5 Situs Freelance untuk Menambah Penghasilan

Tahun ini, DFK akan menampilkan 3 ksatria yang telah lama berkiprah dan melakukan praktik berkelanjutan dengan berbagai karya yang mengemas cerita yang menarik. Mereka adalah Toton, Sejauh Mata Memandang, dan Lulu Lutfi Labibi. Bagi Margaretha, ketiga tokoh tersebut adalah sosok kreatif yang memiliki visi dan misi yang sesuai dengan tema DFK tahun ini. 

“Toton, Lulu, dan Sejauh Mata Memandang adalah tiga sosok kreatif atau label yang memiliki visi misi yang sesuai dengan tema DFK tahun ini, dimana ketiganya melakukan praktik keberlanjutan yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka juga selalu memiliki cerita yang menginspirasi dalam setiap koleksi, dan kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya,” pungkasnya.

Masing-masing dari Ksatria pun memiliki pandangan berbeda mengenai konsep Mother Earth. Toton lebih merefleksikan renungan akan hubungan manusia dengan the higher power ketika manusia terpaksa harus hidup di tengah kondisi yang tidak menentu karena Corona. Chitra Subyakto dari Sejauh Mata Memandang memanfaatkan bahan-bahan sisa dari kain perca. Dengan menggunakan teknik pre-consumer waste, Sejauh Mata Memandang bisa memanfaatkan kain perca dan diolah kembali menjadi benang dan ditenun menjadi kain. 

Sedangkan Lulu terinspirasi dengan puisi-puisi karya Joko Pinurbo tentang sandang. Ia menganggap bahwa puisi merupakan peranti perenungan, juga jalan pulang ke dalam diri.

Tampilkan Selanjutnya

Artikel terkait

Back to top button