Industri KreatifKreatif TourismWisata Kreatif

Salut! Kekurangan Ini Tak Halangi Louis Liang Ciptakan Keindahan Batu Love Garden

Indiekraf.com-Pertengahan bulan Desember tahun lalu, wisata bunga bernama Batu Love Garden yang berada di desa Pandanrejo, kecamatan Bumiaji Kota wisata batu secara resmi dibuka untuk umum.

Meski dibuka saat pandemi covid, namun keindahan beragam bunga dan tatanan yang ada di Batu Love Garden atau Baloga ini sangat menarik minat masyarakat baik di malang raya maupun di luar malang raya.

Meski menarik, namun siapa sangka salah seorang dekorator Batu Love Garden ini merupakan seorang yang tidak suka dengan keindahan bunga karena dekorator ini merupakan seorang buta warna.

tatanan bunga dengan bentuk hewan

Baca juga:

Dekorator itu bernama adalah Louis Liang. Ya, Louis Liang menceritakan kisah hidupnya bahwa kekurangan yang menjadikan kelebihan baginya itu saat ini berawal dari keinginan dirinya yang ingin menjadi seorang penerbang atau pilot.

Saat ia ingin mewujudkan cita cita masa kecilnya itu, dengan mendaftar sebagai calon pilot, ia lantas tidak bisa diterima menjadi seorang pilot karena ia tidak bisa memilih warnasaat dihadapkan dengan tes warna.

Baca juga :

Sejak saat itulah dirinya baru menyadari bahwasanya ia mengalami buta warna, ia pun harus mengubur dalam dalam impian untuk menjadi seorang pilot.

“Bicara apapun yang berkaitan dengan warna, saya punya pengalaman pribadi, yang membuat saya punya trauma, ketika cita cita saya masa kecil adalah seorang pilot saya akhirnya  gagal di (tes) warna karena mata saya, dan saya baru tahu saya buta warna,” kata Louis Liang Sabtu (30/01/21).

Talenta lain

Setelah mimpinya menjadi pilot pupus, Louis Liang tak putus asa, ia pun bersyukur ternyata Tuhan memberinya talenta talenta lain salah satunya bermusik. Hingga akhirnya pun ia menjadi musisi, bagi Louis menjadi musisi itu tak perlu melihat warna, seperti partitur nada yang yang hanya ada hitam diatas putih.

“Tapi karena cita cita saya jadi pilot pupus, Tuhan beri talenta lain yakni seorang musisi,ternyata musisi, tak perlu warna, saya mencontohkan partitur nada, kalau kita lihat partitur itu hanya ada hitam diatas putih,”ujar seniman yang juga seorang dosen itu.

Pandemi covid-19 ini, bagi Louis mungkin menjadi berkah dan tantangan tersendiri, karena setiap orang mau tidak mau dituntut untuk berinovasi. Tawaran dari pihak Baloga pun langsung ia terima.

“Dan pandemi covid ini semua orang harus beralih fungsi, termasuk saya yang di musim pandemi ini saya menemukan pasion baru,yaitu menjadi seorang dekorasi bunga, yang dimana sebelumnya saya tak menyukai bunga, yang kata orang bunga itu penuh warna, dan di baloga ini saya mendapat tantangan tersendiri,” tambah Louis.

Proses Memadukan Warna

Setelah tantangan diterima, ia bersama tim langsung berinovasi, beragam bentuk tatanan taman bunga ia bentuk, mulai bentuk cinta, hewan, atau bentuk tumbuhan lain.

Ketika mulai memadu padankan warna, seniman buta warna ini selalu bertanya kepada tim. Agar perpaduan warna bisa terlihat sangat menarik.

Baca juga :

“Jika anda melihat disini banyak sekali rangkaian bunga dengan beragam warna, bagi anda mungkin biasa saja, namun bagi saya itu sesuatu hal yang luar biasa.

“Bagaimana saya memadu padankan warna, itu saya selalu bertanya warna dasar di dunia ini apa saja, orang bilang ada warna merah hijau kuning jika dicampur bisa menghasilkan banyak warna , dan ketika saya memadu padankan warna saya sering bertanya, semisal warna biru itu cocok disandingkan dengan warna apa dan sebagainya,” kata pria 36 tahun itu.

Bagi Louis, disetiap menciptakan karya ia menempatkan 3 prinsip, yakni unsur, konsep dan tema.

“Bagi saya orang yang tidak paham dengan warna , saya itu selalu mencari satu karya itu adalah unsur, estetik dan temanya. Temanya seperti apa lalu saya cari konsepnya setelah itu saya milih jenis bunga yang cocok,” tambah Louis Liang.

Kebebasan berekspresi

Keindahan Baloga yang bisa dinikmati oleh setiap pengunjung yang hadir hingga saat ini, bagi Louis adalah hasil dari kebebasan berekpresi yang diberikan secara penuh oleh manajamen Baloga. Karena dari awal ia masuk di dalam tim, pihak manajemen tak pernah mengintimidasi atau menghambat dirinya bersama tim kreatifnya untuk berkreasi.

“Saya senang karena Baloga memberi wewenang apapun yang saya lakuka,tema, konsep, jenis bunga rangkaian bunga apapun yang bisa saya tampilkan, itu wadah penting bagi seniman seperti saya, karena seniman apapun itu tidak bisa didikte, dintimidasi, seorang seniman itu datang dari dalam hatinya,” tutup Louis Liang.

Related Articles